Rabu, 07 November 2012

Moving On


#Tischa
Ini hari ketiga aku menikmati sore di Pantai Senggigi. Dengan bertelanjang kaki, aku berjalan menyusuri pinggir pantai yang indah ini sendirian. Hanya aku, kamera di leherku, dan alam. Tanpa gadget yang sengaja aku nonaktifkan dan aku tinggal di penginapan. Aku mencoba menyesapi setiap angin yang menyapa wajahku dan membuat kemeja putih over size di tubuhku berkibar juga rambutku berantakan. Namun tetap, tidak bisa menenangkan hatiku yang berantakan.
Tidak perlu ditanya kesendirianku di sini karena siapa dan apa.
Siapa lagi kalau bukan Pandji?
Apalagi kalau bukan relationship aku dan Pandji yang entah bisa disebut relationship atau tidak?
Kalau tidak salah, sudah hari ketujuh di bulan November. Itu artinya lima hari lagi Natasha pulang ke Indonesia. Natasha siapa? Itu, Raden Roro Natasha Diajeng Putri Sekar Rahayu Diningrat tunangan Pandji yang kuliah di Cambridge University. Katanya, Natasha mau liburan beberapa minggu di Indonesia sebelum akhir bulan nanti Pandji dan dia akan keliling Eropa.
Raden Roro
Bagaimana aku bisa tahu sebegitu detail? No, aku tidak mencaritahunya, itu sama saja dengan bunuh diri. Pandji sendiri yang mengatakan berita itu padaku dua minggu  lalu di sela kencan kami yang cukup romantis. Fine dining, candles, and good wine. And roses. Don’t forget about roses. Ha ha ha dia memang paling jago memainkan moodku.
Selancar dan sebaik apa pun aku bilang, aku baik-baik saja kepada Pandji dan pada ketiga sahabatku ketika mereka bertanya, tetap saja getir dalam dada membuat kalimat itu bergetar setiap aku mengatakannya.
Ha! Baik-baik saja.
Baik-baik saja dari Hongkong.
Aku memang berharap bahwa aku baik-baik saja menghadapinya. Aku harap aku memang tidak masalah dengan kedatangan Natasha. Tapi, aku hanya wanita biasa yang tidak suka dijadikan nomer dua. Aku benci melihat pria yang aku cintai dicintai wanita lain yang lebih sempurna dariku di segala sisi. Semua orang juga bisa menilai kalau aku tidak akan pernah menang melawan apa yang Natasha punya dan apa yang bisa ia berikan pada Pandji. Juga keluarga Pandji. Terutama keluarganya.
Maka, dua hari lalu disela acara afternoon tea kami di kantor café dan dilatarbelakangi suara hujan yang deras di bulan November aku beranikan diri untuk mengatakan hal paling berat. Menyerah.
Aku menyerah untuk tetap bertahan di atas pondasi yang rapuh. Aku menyerah untuk bahagia di antara bayangan. Aku menyerah untuk tetap tegar. Aku menyerah untuk tetap menjadi miliknya.
Whatever you said. You’ll always be mine,” kata Pandji arogan kemudian pergi meninggalkan aku begitu saja.
Selalu begitu saja.
Sesukanya dia bilang hanya ingin adaku. Semudah itu pula ia bilang akan pergi dengan Natasha keliling Eropa akhir bulan ini. Dan sesulit ini dia melepaskan aku pergi.
Aku hampir mati rasa dibuatnya.
Brengsek.
“Tischa!” suara laki-laki dari jauh membuatku berhenti melangkah.
Aku menoleh dan tersenyum melihatnya berlari mendekatiku.
Itu Ello. Pria yang mengenalkanku pada dunia fotografi. Juga laki-laki yang sejak kemarin menemaniku di sini. Kami bertemu tidak sengaja. Dia tiba-tiba saja ada di sampingku kemarin sore ketika aku duduk menatap senja di Pantai Senggigih. Entah bagaimana ia tahu aku ada di sini. Padahal tidak ada seorang pun bahkan ketiga sahabatku yang tahu aku menenangkan diri di sini.
“Hei,” sapanya ketika ia sudah berdiri disampingku.
“Hei, kamu foto apa aja hari ini?” tanyaku sambil melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menyenderkan kepalaku di bahunya.
“Banyak,” jawabnya sambil mengalungkan lengannya di bahuku.
Kemudian kami berjalan menyusuri pantai dalam diam. Tanpa mengatakan apa pun dan hanya berjalan menuju tempat penginapan. Bukan. Aku bukan sedang memberikan harapan pada Ello. Aku yakin pria sepertinya mengerti apa yang aku dan dia lakukan saat ini hanya sebatas memainkan peran. Peran si kesepian dan si penghibur.
 Aku juga bukan sedang melakukan moving on. Aku hanya memainkan permainan yang Pandji mainkan ; break someone’s heart and tell them you love them.
If you think I can’t hurt you like you did to me, you’re wrong, Ndji. Totally wrong.
***
PS : Project Imagination #7 dari tema ‘Moving On’
Cerita sebelumnya Ratischa dan Pandji 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar