Minggu, 04 November 2012

Ada yang Salah dengan Hujan Hari Ini



Guntur kembali bergemuruh membuat bronthopobia (Red : takut akan guntur dan kilat) remaja dalam gaun putih dengan detail bunga yang rumit di sekelilingnya hadir kembali dan membuatnya menyebut nama Tuhan berkali-kali berusaha menenangkan diri. Kilatan cahaya di jendela kamar yang tirainya tak berani ia tutup membuatnya meringkuk ke dalam selimut tebal warna merah kesukaannnya. Ia paling benci hari-hari seperti ini. Benci sekali.
Sebagai Putri Raja Negeri Awan ia sebenarnya malu dengan phobia yang ia miliki. Hujan, kilat, dan guntur seharusnya menjadi sahabat paling kekal, tapi apa boleh buat ia benci itu semua. Benci sampai atom-atom dalam dirinya. Entah apa yang membuat ia seperti itu dan berbeda dengan dua kakaknya yang lain.
Ia berusaha menyimpulkan hal itu berkali-kali tapi suara gemuruh diluar kastil membuat ia menyerah dan kembali berdoa.
Di sela doanya yang khusyuk, ia mendengar pintu kamarnya di ketuk perlahan. Tiga kali. Pasti Jane, kakaknya nomer dua.
“Masuk,” kata Kalia dari dalam selimut, nama anak remaja itu.
Pintu itu terbuka. Benar saja. Kakaknya berdiri disana dalam balutan gaun rumah yang biasa mereka kenakan dengan detail rumit dan bagian bawah yang mengembang bewarna biru muda. Kakaknya terlihat sangat cantik dan anggun—seperti biasa—ditambah dengan senyum yang mengembang di wajah itu membuat Jane persis bidadari.
Jane duduk di samping Kalia dan membuka selimut itu perlahan. Kalia membuka mata dan langsung memeluk kakaknya erat-erat.
“Lama banget sih, Kak,” katanya manja.
Jane tertawa. Suara tawanya mampu membuat seluruh penjuru Negeri Awan damai. Sedikit demi sedikit suara guntur mereda meski hujan masih setia turun dalam rintik. Ia terkenal dengan suara merdunya. Tiap sore Jane biasa bernyanyi sambil bermain harpa untuk menghibur seluruh rakyat negeri awan, tapi hari ini ada pertemuan yang tidak bisa ia hindari.
“Maaf, cantik. Aku habis ada pertemuan sama Ayah dan Kak Hayes.”
Hayes adalah Pangeran Negeri Awan, kakak mereka berdua. Pangeran yang gagah dan tampan juga sangat keras kepala tapi sangat menyayangi kedua adiknya yang cantik jelita.
Kalia diam. Ia tidak peduli pada apa pun kecuali suara gemuruh yang membuatnya ingin menghilang ke dasar bumi. Di bumi suara guntur tidak seheboh ini. Tapi, ayahnya tidak akan pernah mengizinkan anak-anaknya untuk menginjakan kaki ke Bumi sejak peristiwa itu.
Peristiwa tiga tahun lalu. Dimana ia dan kedua kakaknya berlibur ke Bumi. Mereka bertiga pergi mengunjungi tanah Bali di Indonesia. Tempat paling indah yang mereka pernah kunjungi. Di sana mereka bermain sepuasnya diantara ombak dan hiruk pikuk manusia ras bumi yang sama wujudnya dengan mereka tapi berbeda kekuatan serta sususan atom dalam tubuh mereka.
 Seperti biasa, mereka duduk bertiga memandangi matahari terbenam di Tanah Lot. Di negeri mereka peristiwa indah ini hanya terjadi dua kali dalam setahun. Maka dari itu memandangi senja adalah hal yang paling mereka sukai. Ada suatu rasa damai yang beda ketika melihat semburat jingga di ujung sana melebur di batas cakrawala. Dalam keheningan itu, tiba-tiba harus terusik dengan suara dari laki-laki yang berdiri di belakang mereka.
“Dari kemarin saya perhatikan kalian suka sekali melihat mentari terbenam,” ungkapnya sambil tersenyum.
Laki-laki itu seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Tubuh tinggi berotot dengan kulit bewarna coklat akibat terbakar matahari dilengkapi senyum ramah yang menawan. Mereka bertiga tersenyum membalas pernyataan itu kemudian Hayes mengajak laki-laki bernama Utha itu bergabung dengan mereka.
Tapi siapa yang tahu? Dari kalimat sedehana itu, si cantik Jane, merasakan pertama kalinya jatuh cinta. Dan sialnya, jika ras mereka jatuh cinta perasaan itu akan bertahan selamanya. Tidak ada peraturan khusus tentang pernikahan antar ras lain, sampai dulu, putri raja yang kedua bernama Ira, adik dari Hayes juga kakak dari Jane dan Kalia jatuh cinta dengan manusia bumi.
Tidak ada yang salah dengan cinta. Tapi, Ira jatuh cinta dengan cara yang salah. Ia membuka diri siapa ia sebenarnya dengan laki-laki itu dan membuka portal dari Negeri Awan tanpa izin Ayahnya, Sang Raja dan hal itu membuat keseimbangan antara langit dan bumi terganggu. Bahkan laki-laki itu membawa beberapa temannya yang tidak tahu diri kemudian merusak alam negeri awan yang damai. Mereka menginjakan tanah suci yang terlarang.
Sang Raja murka. Karena tanah suci yang terlarang untuk disentuh malah dikunjungi oleh manusia yang tidak tahu diri. Sejak saat itu, Ira di suruh memilih, laki-laki itu atau negerinya. Ternyata yang ia pilih adalah laki-laki bodoh itu. Ira diusir dari negeri awan, sayangnya, tanpa atom negeri awan Ira tidak bisa hidup lama. Dan akhirnya ia meninggal setelah tujuh hari di bumi.
Suara gemuruh dikejauhan membuat Kalia tersadar dari kilas balik yang ia lakukan.
“Ada masalah apa, Kak?” bisik Kalia. Tidak biasanya Jane tidak bernyanyi di sore hari untuk menghibur rakyatnya.
Jane hanya tersenyum simpul kemudian memeluk adiknya erat, “Udah ngga usah dipikirin.”
Bukan Kalia namanya kalau tidak punya rasa ingin tahu yang besar. Ia bangkit dari pelukan kakaknya dan menatap mata kakaknya lekat-lekat. “Kenapa, Kak? Ada apa?”
Jane menggeleng.
Kalia diam sejenak untuk berpikir. Tidak biasanya Jane terlihat murung. Tidak biasanya pertemuan antara Ayah dan kedua kakaknya berlangsung lama. Tidak biasanya hujan turun sebegitu deras dan guntur menyambar-nyambar begitu galak. Ada apa?
“Ngga ada hubungannya kan dengan manusia bernama Utha itu?” tanya Kalia akhirnya.
Jane sempat kaget dan kemudian tersenyum miris. Diam. Tidak menjawab pertanyaan adiknya.
“Kak..” rengek Kalia. Ia meremas ujung gaun kakaknya.
“Aku bisa ngomong apa?” ungkap Jane putus asa.
Kalia terdiam. Ia bingung setengah mati. Ia tahu sekali apa yang dibicarakan hingga sebegitu lama para petinggi itu di sana.
“Ayah ngga nyuruh kakak untuk memilih kan?”
Jane terdiam.
“Kak…” panggilnya putus asa.
Jane menarik nafas dalam-dalam kemudian tersenyum, “Aku dan Utha punya waktu tujuh hari untuk mencari sumber atom yang mirip dengan milik kita di bumi.”
Kalia terdiam. Ia sama sekali tidak siap harus mengulang masa lalu ketika mereka sekeluarga kehilangan Ira. Tidak. Ia tidak siap. Ia memang pernah mendengar tentang atom itu dari seorang peramal di pasar gelap di ujung negeri yang diam-diam ia kunjungi. Tapi, sulit untuk meraih tempat atom itu berada. Dan tujuh hari???? Itu bukan waktu yang lama.
Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan hanya segera pergi ke tempat peramal itu berada secepatnya tidak peduli sederas dan segemuruh apa pun hujan juga guntur hari ini.
***
PS : Project Imagination #3 dengan Tema "Masa Lalu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar