Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

Figuran



#Fey
“Scha?” panggilku lirih pada Tischa.
Aku reflex memanggil namanya ketika Tischa mengakhiri jawaban ‘How’s day?’ dari Mara. Hari ini kami baru sempat bertemu malam hari di apartemen karena kami berempat sibuk dengan urusan masing-masing. Aku ada pemotretan seharian, Thyra sibuk merekap data karyawan, Mara menemui investor, dan Tischa di cafĂ© sebagai supervisor hari ini.
 Sekarang kami bertiga berada di atas ranjangku yang berubah sempit karena aku, Mara, Thyra, dan Tischa memaksa untuk berbaring di atasnya.
Tischa menoleh, “Kenapa, Fey?” tanyanya.
Aku memandang ketiga sahabatku bergantian dan menghela nafas panjang. Actually, I don’t know what to say. I’m just…shock. Tischa and Pandji just ended their relationship.
Tischa dan Pandji.
Pasangan yang selalu dibicarakan teman-teman modelku dan membuat mereka iri dengan chemistry yang ditunjukan Tischa serta Pandji.
Setelah berusaha mencari kata yang tepat, aku akhirnya memilih menggeleng untuk pertanyaan Tischa. Kedua sahabatku yang lain juga sepertinya kehabisan kata-kata.
Are you okay, Scha?” tanya Thyra kemudian.
Tischa yang sedari tadi sibuk memandangi bantal dan memainkan dengan jemarinya mengangkat kepala, melayangkan pandangan ke arah Thyra kemudian menggeleng.
Menurutku, Thyra nggak perlu menanyakan hal itu deh. Siapa juga sih yang merasa baik-baik aja setelah putus dari orang yang disayang banget?
You should feel okay, Scha,” desah Mara.
I will. Gue cuma bingung harus bicara apa ke Ibu.”
Kami bertiga langsung freezing selama beberapa detik. Ibu kan…sayang banget-bangetan sama Pandji.
“Gue yakin ibu bakalan ngerti, Scha,” hibur Mara.
Tischa tersenyum sinis, “Kalau ibu tau alasan yang sebenarnya pasti.”
“Yaudah, kasih tau dong, Scha,” kataku.
Mara dan Thyra mengangguk.
“Duh, nggak segampang itu. Kalian tau kan ibu itu sayang banget sama Pandji?”
Kami—aku, Mara, dan Thyra—bertiga mengangguk.
“Gue yakin Pandji pasti hubungin ibu dan cerita kebalikannya. Dan ibu pasti bakalan lebih percaya sama Pandji.”
“Kenapa gitu?” tanyaku bingung.
Let me guess,” ujar Thyra, “Karena selama ini lo memang sering banget gonta- ganti pacar dengan alasan putus yang aneh-aneh?”
Exactly,” jawab Tischa sambil tersenyum miris.
“Sekarang gini deh, Scha,” kataku diplomatis. Ketiga sahabatku menyimak. “Kamu yakin nggak sih putus sama dia?”
Tischa memandang kami bertiga bergantian.
“Yakin, Fey. Mau jadi apa aku kalau nggak pisah sama dia dari sekarang?”
“Maksud lo, Scha?” tanya Mara.
“Ya, bayangin aja. Kalau gue nekat bilang iya untuk nikah sama dia, gue yakin cepat atau lambat peran gue dulu sebagai figuran bakalan naik tingkat jadi pemeran utama,” ungkap Tischa penuh kode.
Jujur aja aku nggak ngerti maksudnya apa.
“Maksudnya?” tanya kami hampir bersamaan.
Tischa menghirup nafasnya seolah lelah. Kasian Tischa, ketiga sahabatnya lemot semua.
“Cantik-cantikku, gini lho, kalau aku sama dia nikah, keluarga Pandji juga bakalan desak aku untuk pisah dari dia dan ibu bakalan sedih lihat aku begitu dan akhirnya aku pisah karena nggak tahan sama desakan keluarga Pandji yang bakalan wow banget,” kata Tischa, “Iya, nggak?”
Kami mengangguk.
“Aku udah pernah jadi figuran di drama perceraian dulu. Dan aku lebih memilih tersiksa sekarang dari pada harus jadi pemeran utama di drama itu,” ujar Tischa selanjutnya.
Kalimat Tischa membuat kami terhenyak dan membuatku berpikir tentang hubunganku dengan Dricky yang masih saja on-off. Bahkan hubunganku dengan Dricky lebih mudah membuatku menjadi pemeran utama dalam drama perceraian jika kami nekat menikah.
Hmm…Pemeran utama dalam drama perceraian? Tischa benar harusnya memang dari sekarang dibiasakan untuk lepas dari laki-laki seperti Dricky dan Pandji.
Tapi, kenapa? Kenapa aku…belum bisa setegar Tischa untuk memilih tersiksa sekarang karena pisah dari Dricky?
Andai aku bisa, Scha. Andai. Karena aku juga nggak mau jadi bintang utama dalam drama itu. Nggak mau…
***
sumber foto : tumblr.com

Selasa, 30 April 2013

Si Cantik Bermata Almond



Bertahun-tahun lalu, Iko ingat, ia hampir saja tertidur di tengah acara seminar bergengsi di ballroom Four Season. Pembicara pada sesi pertama itu membuat ia merasa seolah didongengkan kisah sebelum tidur. Ia menjadi ngantuk sengantuk-ngantuknya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam, membenarkan posisi duduknya yang agak lesu lalu merapikan ujung jas setelan Armani warna biru tua yang ia kenakan dengan santai. Semua itu dilakukan agar bisa menghilangkan rasa kantuk pada dirinya. Tapi, ternyata tidak. Rasa kantuk masih asik bergelayutan di kelopak matanya.
Mengantuk di tengah seminar bisnis seperti ini bukanlah gaya Iko. Tapi, salahnya sendiri, sudah tahu harus menghadiri seminar bergengsi untuk mewakili perusahaan tempatnya bekerja, ia malah mengiyakan ajakan Rumi—his friend with benefit—untuk menemani si social butterfly itu ke acara party salah satu teman sosialitanya semalam suntuk. Jadilah, pagi itu Iko tidak berhenti menguap. Di ujung matanya bahkan menetes sedikit air mata. Menandakan si empunya mata benar-benar butuh tidur.
Arrrgh! Damn you, sleepy eyes! Rutuk Iko dalam hatinya.
Kemudian perhatian Iko terbelah, dari pembicara di atas panggung sana dengan sosok yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Ia menoleh, ternyata sosok itu adalah salah satu fotografer acara ini. Seorang perempuan dengan kamera SLR di lehernya. Entah tipe berapa kamera di leher perempuan dengan kaki jenjang itu, Iko tidak peduli. Sebagai seorang lelaki normal, mata Iko lebih memedulikan penampilan dari ujung rambut perempuan yang wajahnya tertutup kamera itu sampai ke ujung kaki.
Perempuan itu memandang hasil jepretannya sambil tersenyum puas. Iko yang tadi mengantuk pun saat itu langsung seperti di siram air begitu dingin. Tubuhnya merasa sangat segar karena senyum itu. Seolah, di sekitar perempuan itu ada begitu banyak cahaya dan bunga-bunga yang entah datang darimana, tapi mampu Iko lihat dengan jelas. Fotografer perempuan ini benar-benar menyita perhatian Iko.
Hormon testosteron yang mengalir dalam darah Iko memimpin matanya untuk melihat lebih detail ke arah paras perempuan berjaket semi formal bewarna hitam. Wajah itu memiliki bentuk oval dengan kedua alis hitam berlengkung sempurna. Matanya berbentuk seperti kacang almond. Pupilnya memiliki warna hitam jernih yang terlihat penuh cahaya bagi Iko. Hidung perempuan ini bangir, tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil. Sungguh pas berpasangan dengan bibirnya yang tipis di atas dan tebal di bagian bawah. Dan lagi-lagi bagi Iko, bibir itu begitu memikat karena si pemiliknya memoleskan warna soft pink di sana.
Pria berwajah latin ini terpesona. Ia ingin mengenal si cantik bermata almond di sampingnya ini lebih jauh. Sebelum keduluan para peserta seminar ini yang mayoritas berjenis kelamain laki-laki—sama seperti dirinya, Iko mendekati fotografer itu ketika sesi makan siang. Si fotografer cantik itu sedang menyuap sepotong strawbeery cheese cake ketika Iko berdiri di hadapannya.
“Hai!” sapa Iko sambil melemparkan senyum cassanova andalannya.
Perempuan itu sedikit tersedak ketika melihat senyum Iko. Respon itu cukup membuat Iko yakin, bahwa senyum miliknya masih berfungsi dengan baik. Iko langsung merogoh sapu tangan miliknya dan memberikan sapu tangan itu pada si fotografer cantik.
Thank you,” bisik fotografer itu sambil menerima sapu tangan Iko, “Tapi aku lebih butuh minum daripada sapu tangan kamu.”
Iko tertawa kecil. “Biar aku ambilkan,” katanya sambil melangkah ke arah meja lain dan segera kembali dengan segelas air putih.
Iko memberikan gelas berisi air putih itu kepada si fotografer.
Thank you, once again,” kata perempuan itu sambil tersenyum.
Goddammit, her smile is has more poison than mine! Desis Iko dalam hati.
Iko mengangguk pelan. “Kamu udah sering ya motret acara kayak gini?” tanya Iko. Telunjuknya menunjuk sebuah kamera yang tergantung di leher perempuan itu.
Perempuan itu menggeleng, “Baru aja kok. Ini cuma bantuin temanku aja. Dia ketua pelaksana seminar ini.”
Mulut Iko membentuk huruf O dan kepalanya menggangguk mengerti.
“Kamu sendiri, sering ikut seminar kayak gini?” tanya perempuan itu ramah.
Iko mengangguk, “Kind of. Ya, lumayanlah ya untuk di tulis di CV.”
Keduanya lalu tertawa.
“Oh iya, kita belum kenalan,” Iko mengulurkan tangannya, “Namaku Iko. Kamu?”
Perempuan itu menyambut uluran tangan Iko, “Amira.”
What a beautiful name,” puji Iko.
Thank you.” Jawab Amira sambil menunduk. Ia mencoba  menutupi rona merah yang mampir di wajahnya. Dipuji memang sudah biasa bagi Amira, tapi, kali ini yang memuji sebelas dua belas dengan Enrique Iglesias. Pria latin memang selalu berhasil membuat Amira bersikap layaknya orang bodoh. Apalagi di wajah yang ada di hadapannya kini dihiasi bulu halus. Hal itu membuat Amira makin sulit untuk bersikap bisa saja. Dan dia sangat benci itu.
Beberapa detik matanya memandangi lantai ballroom naik menatap si ganteng ini dari ujung sepatu sampai ke ujung rambutnya. Amira tersenyum sekali lagi lalu mendekat ke arah Iko. Ia mengarahkan wajahnya ke sisi kiri wajah Iko untuk membisiki sesuatu yang sempat mengganggu matanya ketika tadi ia melakukan trip kecil—memandang dari ujung sepatu sampai ujung rambut Iko.
“Iko,” bisik Amira lembut membuat bulu di sekitar leher Iko meremang.
Iko memejamkan mata dan menunggu kalimat Amira selanjutnya.
 “Sleting celana kamu terbuka.” bisik Amira lagi. Lalu di susul dengan tawa kecil.
Iko yang daritadi sudah senang bukan main karena ia bisa menghirup aroma parfum Angel Heart yang dipakai Amira dari jarak dekat, langsung menengok ke arah bawah. Ke arah sleting celananya yang…GODDAMMIT!—memang terbuka.
Ia menoleh ke arah Amira yang masih tersenyum manis, membalas senyum itu dengan senyum sebiasa mungkin lalu segera izin untuk pergi ke toilet.
Dia merasa sangat bodoh dan malu.
No more party before meeting!” desis Iko.
***
sumber foto : tumblr.com

Sabtu, 13 April 2013

Oh...Wait! WHAT?!



Jemari Bianca menari di smart phone miliknya. Ia sibuk membalas tweet dari Lea yang menanyakan ingin dibawakan apa untuk makan siang. Lea yang kini mengantri di tukang sate padang sudah hampir kehilangan kesabaran karena sudah hampir tiga kali Bi mengganti menu makan siang yang ia mau. Tadi pagi sebelum Lea berangkat kuliah, si Bi bilang ingin makan toge goreng. Lea menyanggupinya walaupun sesungguhnya, ia  tidak tahu bagaimana bentuk toge goreng itu. Ia menyanggupinya karena Bi sedang sakit. Maag Bi kambuh, sampai anak itu tidak pergi kuliah.
Tapi ketika tadi Lea selesai kelas, Bianca bilang sudah tidak ingin makan toge goreng. Si cantik bermata sipit tiba-tiba ingin makan pecel madiun. Lea senang, karena ia tidak harus mencari toge goreng yang ia tidak tahu. Dan ia tambah senang karena pecel madiun kebetulan ada di kantin mereka, jadi, makan siang untuk Bi beres.
Namun ketika Lea sudah melangkahkan kakinya menuju kantin untuk membeli pecel madiun untuk Bi dan seporsi mie ayam untuknya, tiba-tiba Bi mengirim mention pada twitternya dan bilang kalau ia ingin makan sate padang. Bi bilang ia harus makan makanan itu. Tidak peduli bagaimanapun Lea bilang ia sudah memesan pecel madiun. Karena rasa sayang, setelah mie ayam dambaannya ada di tangan, Lea akhirnya keluar kampus, naik angkutan umum dan pergi ke tukang sate padang langganan mereka berdua. Dalam hati Lea sudah bersumpah kalau sampai Bi mengganti makanannya lagi, ia akan membelikan Bi cimol telor. Makanan pinggir jalan yang sangat tidak disukai anak itu dan memaksa Bi untuk memakan porsi lima ribu cimol telor itu sampai habis bis bis.
Dan ternyata Bi benar-benar mengganti makanannya. Kali ini ia ingin makan soto ayam surabaya. Lea hampir berteriak dikeramaian ketika membaca mention dari Bi. Tapi karena begitu sayangnya Lea pada Bi, ia mengurungkan niatnya untuk membelikan Bi cimol telor yang sering dikutuk Bi kalau Lea membelinya sebagai cemilan. Kakinya melangkah keluar kios sate padang selepas ia memastikan bahwa kali ini Bi benar-benar ingin makan soto ayam surabaya tanpa ada penggantian lagi. Karena Lea sudah sangat lapar dan mie ayam yang dibelinya mungkin sudah mekar tidak karuan.
Lea sampai di kontrakan mereka empat puluh menit kemudian dan langsung berteriak-teriak memanggil Bi sambil menyiapkan wadah untuk makan siang mereka.
“Biiiiiii! Ini makanannya nih!” teriak Lea sambil menuangkan soto ayam Bi ke mangkuk.
Bi tidak menjawab. Bahkan Bi masih bergeming ketika Lea sudah mengunyahkan mie ayam mekarnya.
“Biancaaaaa!”
Tidak ada jawaban. Lea bangkit dari kursi meja makan dan berjalan menuju kamar Bi, tapi Bi tidak ada di sana. Lea bingung dan panik. Ia lalu ke kamar mandi, ia ingat tadi pintu kamar mandi mereka tadi tertutup ketika ia pulang. Lea mencoba membuka pintu kamar mandi itu, tapi, tidak bisa. Berarti Bi di dalam.
“Bi, lo di dalam, kan?” tanya Lea.
Tidak ada jawaban.
Lea mengetuk pintu kamar mandi, “Bianca! Jangan bikin panik gini dong ah!” omelnya.
“Iya, Le. Gue di sini,” jawab Bianca pada akhirnya.
Lea menghela nafas lega.
“Nyaut kek dari tadi kalo orang manggil. Bikin panik aja. Buruan, makan dulu, Bi.”
“Gue nggak lapar,” jawab Bi lemas.
“Apa lo bilang? Nggak lapar?!” ungkap Lea, “Gue udah bolak-balik ya Bi buat lo. Keluar buruan, ah! Makan terus minum obat. Udah tau maag dan muntah-muntah dari pa—“
“Gue nggak apa-apa kok,” ungkap Bi sambil keluar dari kamar mandi dan membuat Lea terhenti dari ceramah siangnya.
Lea menatap sahabatnya bingung. Karena ada kesenduan di wajah perempuan keturunan Cina itu.
Tanpa mengatakan apapun, Bi meraih tangan kanan Lea dan memberikan sebuah benda ke dalam genggamannya. Lea menatap benda itu. Kakinya terasa lemas ketika samar-samar matanya melihat tanda di benda kecil panjang bewarna putih itu. Ia mengangkat benda mungil itu untuk diteliti dan…
“OH! No!” teriak Lea sambil memandang Bi.
Bi membalas tatapan Lea dengan mimik muka yang tak bisa didefinisikan.
“Lo abis bersihin kamar mandi dan nemu ini? Iyyuh! Testpack siapa sih nih segala ketinggalan di kamar mandi kita? Tadi anak-anak main ke sini, Bi?” tanya Lea polos, “Garisnya dua lagi. Artinya positif kan, Bi?”
Bi terdiam.
“Bi?” panggil Lea sambil menggoncang bahu Bi yang terdiam dan menunduk.
Bi mengangkat wajahnya yang memerah karena menahan air mata, “Itu punya gue, Lea.”
"Oh...punya lo toh. Kirain punya..." kata Lea sambil berjalan menuju tempat sampah untuk membuang benda itu, "Wait!" Ia tak jadi membuangnya dan menoleh ke arah Bi dengan tatapan kaget, "WHAT?!"
***
sumber foto : tumblr.com

Selasa, 02 April 2013

Yang Tak Tersentuh Dan Semakin Menjauh



Do you know? Fate. Is. A. Real. Bitch.
Diketemukannya aku dan kamu dalam satu wacana lalu dibuatnya aku jatuh cinta, tapi kamu tidak.
Dibuatnya aku berbunga-bunga sedang kamu di ujung sana khidmat menangisi kuburan masa lalumu.
Dibuatnya waktu seolah tersangka atas kegagalanmu melupakan dan kebodohanku berandai menjadi milikmu.
Ha-ha-ha.
Takdir juga membuat kita bertanya-tanya kapan semua rasa sakit atas kehilangan sesuatu yang sulit tergenggam ini berakhir.
Takdir membuat kita menerima dengan pasrah tanpa terlebih dulu berusaha menyentuh—merengkuh—mengejar—menggenggam…
Jika masih kurang, takdir buat aku dan kamu saling tahu tapi pura-pura tidak tahu.
Tahu bahwa memang ada kesempatan untuk bahagia jika aku dan kamu menjadi kita.
Takdir membuat kamu seolah mendekat padahal nyatanya kamu jauh dan tak tersentuh…
Takdir membuat aku merasakan lagi cinta pada orang yang tak mau memberi kesempatan bagiku untuk sekedar mengecap rasa itu lagi.
Takdir membuat aku berusaha untuk kamu tapi kamu tidak.
Now I feel like a fate’s joke.
Dipermainkan rasa dari awal sejak kuputuskan untuk mengumpulkan serpihan hatiku yang tercecer di lorong jalan sana untukmu sangat-sangat-sangat tidak lucu!
Kamu harus tahu, kalau rasanya memang sesakit itu. Meski harusnya memang tak sesakit itu karena…hey! Kamu adalah sesuatu yang jauh dan tak pernah bisa tersentuh. Sesuatu yang belum pernah menjadi milikku. Aku memang tidak seharusnya sesakit itu. Tapi aku sama dengan kamu, meski hancur berkeping-keping, hati ini masih bisa merasakan segala rasa yang Tuhan titipkan pada kita.
Well, jika memang takdir yang memisahkan kita, ku harap nanti di akhir tidak ada penyesalan dalam hatimu akan aku.
Dan kalau memang kamu tahu tapi kamu memilih untuk pura-pura tidak tahu, cobalah kamu tengok senja di sana. Ia sama sepertimu.
Meski jauh dan tak tersentuh, semburatnya masih bisa menenangkan aku.
Menenangkan bertapak-tapak hatiku meski harus melepaskan semburat warna itu saat bulan mulai bersiap untuk bercerita tentang bintang-bintang.

Seperti aku melepaskanmu saat ini.
Aku tenang. Aku damai. Aku rela.
Biarlah dirimu tetap jauh dan tak tersentuh.
Dan kamu menikmati masa lalumu itu sendirian.
Aku berdoa semoga kamu tidak pernah menyesalinya.
Karena aku akan melangkah tepat sebelum kamu tahu aku melangkah.
Dan ketika aku melangkah, ketahuilah; aku tak akan lagi dekat apalagi bisa kau sentuh.
Fate is a real bitch, Honey…
Tapi kalau aku masih di sini dan menyalahkan takdir, aku sama saja sepertimu.
Dan aku tidak mau menjadi seperti itu; Tahu bahwa berhak bahagia dengan cinta yang baru tapi memilih untuk pura-pura tidak tahu.
Jadi, selamat tinggal dan sampai jumpa pada takdir berikutnya.

Kamis, 14 Maret 2013

Maukah Kamu?



Aku tidak percaya kebetulan.
Kebetulan itu hanyalah kalimat hiburan yang diciptakan manusia karena tidak mengerti arti dari apa yang Tuhan rencanakan.
Bahwa dibalik semua 'kebetulan' itu ada benang merah yang berujung dengan takdir.
Aku pribadi lebih memilih percaya pada rencana Tuhan daripada kebetulan.
Kamu boleh tidak setuju. Seperti biasanya bukan? Kamu memang paling suka tidak-menyetujui apa yang aku pikirkan. Dari mulai pilihanku untuk ngeblog dan sharing everything disana sampai hal-hal random seperti ini. This I-don't-believe-coincidence thing.
Ah kamu.
Tapi, coba sejenak kamu pikirkan.
Coba sebentar saja, lewat tulisan ini, resapilah maksudku perlahan-lahan. Mungkin memang tak akan merubah ketidaksetujuanmu, yang penting aku mencoba.

My Bear, aku rasa kita pernah disana.
Di pelabuhan semu itu.
Dulu serasa samudra yang ditempuh terbayar dengan pesona pelabuhan indah tapi semu itu.
Namun akhirnya, air pasang mulai membuat kita tersadar apa pun yang ada di sana hanyalah bayangan.
Kemudian kita terombang-ambing lagi.
Harus mengatur nafas dengan benar sebisa mungkin lagi.
Berjuang dengan kapal bolong-bolong menuju pelabuhan selanjutnya--yang semoga tidak semu.
Kamu dan aku sama-sama tahu, bahwa setelah berlabuh di sana kapal kita sama-sama porak-poranda.
Kita bahkan tidak mau berlayar lagi, tapi sayang, hidup memaksa kita untuk terus berlayar tanpa berlabuh lalu akhirnya kita saling menemukan.
Tapi, sayangku...saling menemukan saja tidak cukup.
Karena ternyata kamu sempat putuskan bahwa aku sama semunya dengan dia yang dulu.
Kamu melangkah pergi tepat sebelum aku menyambut jabatan tanganmu.
Asal kamu tahu saja, saat itu aku pikir kamu juga semu.
Seolah tak pernah lelah, waktu terus berputar.
Hingga memaksa jalan kita bertemu di titik yang sama...hingga kini.
Hingga detik ini.
Saat jemarimu menggenggam penuh jemariku.
Saat kamu mencoba menghitung helai-helai rambutku di malam-malam kita.
Saat kamu tertawa karena tidak setuju dengan teori-teori milikku.
Kalau memang ini hanyalah kebetulan.
Harus berapa banyak kebetulan untuk meyakinkanmu agar tidak hanya singgah tapi bertahan denganku?
Kita pernah sama-sama terluka, jika memang itu kebetulan.
Lalu kita saling menemukan, kebetulan yang terjadi dua kalikah itu?
Kemudian kita terpisah dan kini menghabiskan waktu bersama.
Kalau memang itu kebetulan, sayangku, mengapa harus begitu banyak kamu di kepalaku setelah hari kamu pergi?
Kenapa kita tidak belajar menyebut ini takdir dan mencoba mendalami lagi arti dari pertemuan-perpisahan-pertemuan kembali kita ini?
Ssshhht, jangan bicara apa pun sekarang.
Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita memang ditakdirkan bersama, bukan kebetulan bersama.
Pertanyaan sebenarnya adalah ; maukah kamu menjadi takdirku dan membuat kebetulan-kebetulan lainnya menjadi takdir kita?
***

Selasa, 05 Maret 2013

Teduhku



Ada perasaan yang menggelitik hatiku setiap matahari disembunyikan awan hitam dibalik kesombongannya dan gemuruh mulai terdengar bersautan. Itu artinya aku hanya tinggal menunggu sampai awan melepaskan rintik demi rintik air hujan ke bumi.
Dan nanti rintik-rintik itu akan membawakan kembali kenangan yang sudah lama aku coba lupakan. Kenangan tentang aku dan kamu. Satu persatu akan muncul dengan jelas dipikiranku.
Hey, kamu! Tahu bukan bahwa kamu adalah alasan mengapa hujan begitu menyiksa untukku? Karena hujan itu selalu identik dengan kamu di kepalaku. Satu dua detik memang sedikit, namun lama-kelamaan semakin banyak bahkan tidak terbendung. Dan aku sama sekali tidak suka hal itu.
Sebab sekarang sudah Februari di tahun baru ini. Artinya lebih sudah dari enam tahun aku mencoba melepaskan bayanganmu dariku. Namun masih saja semesta mendukungku untuk terus memikirkanmu lebih jauh. Membayangkan senyummu ketika aku menceritakan hariku. Tersenyum sendiri ketika teringat saat pertama kali kita bertemu. Menitikan air mata ketika kepalaku memutar bagian dimana kamu melangkah pergi, menjauh…dan tak pernah kembali. Kemudian merutuki diri sendiri karena tak pernah bisa melawan emosi ketika hujan menghantarkan aroma kesukaanmu; rumput basah. Sebab aku rindu, aku rindu, aku sungguh rindu membaui aroma rumput basah denganmu.
Hujan memang selalu identik dengan kamu. Sebab ia tak bisa ditebak. Apakah deras apakah tidak. Apakah benar turun atau hanya ingin sekedar lewat hanya untuk membuatmu tetap terkenang. Dan aku sama sekali tidak suka itu.
Sebab kamu dan segala hal tentang kamu seharusnya memang sudah terlepas dari sejak dia menyapaku dan aku menyapanya kembali. Namun nyatanya, tanpa aku sadari, kamu buat tato namamu di ingatanku tanpa izin dariku.
Argh! Aku sama sekali tidak suka hal itu! Tapi, hujan itu akan selalu identik dengan kamu. Sama-sama mampu melunturkan segala upaya yang aku lakukan untuk melupakanmu. Samar-samar namun pasti, kini perasaanku untuknya memudar…terhapus oleh senyummu setiap hujan turun.
Hujan memang selalu identik dengan kamu yang pernah mencintaiku dulu. Meskipun begitu, aku tak pernah berhenti berdoa pada Tuhan; Jika memang hujan turun untuk sebuah kebaikan, maka biarkanlah yang memudar ini rasa ragu untuk tetap bersamanya. Sebab waktu yang telah ku habiskan untuk belajar mencintai lelakiku kini, lebih banyak dari pada waktu yang dia—lelaki dari masa lalu—habiskan untuk mencintaiku.
Memang hujan akan selalu identik dengan kamu. Namun, teduh pun selalu ada setelah hujan pergi. Membuat lega seluruh hati yang berharap hujan segera berhenti. Seperti dia, lelakiku kini. Satu-satunya alasan yang membuatku bersyukur karena hujan turun.
Dia adalah teduhku. Lelaki yang mengajariku bahwa waktu dan rasa memang tidak bisa dikendalikan, tapi, kita bisa memilih; untuk tetap menghabiskan waktu dengan rasa yang sakit atau memanfaatkan waktu untuk belajar mengecap lagi rasa bahagia.
He’s my man, my future, my home, my happiness, my answer, and my final journey.
Tanpa kamu, hujan, aku tidak akan pernah bertemu teduhku.
God is really a good director and our story will always be a part of me until the end of time, rain.
***
(Sumber foto : tumblr.com)

Rabu, 20 Februari 2013

Fiksi



Aku tidak mengerti apa yang salah denganku yang katamu tak lagi sehangat dulu. Denganmu yang kini banyak mengeluh. Dengan kita yang semakin menjauh…
Aku bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara kita kini? Bukankah kita berdua tahu bahwa dari awal kita adalah tokoh yang diciptakan untuk berakhir dengan tangis dan tragis? Ketika pertama kali kita berdua bertemu dan saling setuju untuk disatukan dalam cerita, kamu menyambutku dengan senyum dan aku membalas senyummu dengan ciuman yang lembut. Sama seperti yang tertulis dalam naskah kita. Tidak sekali pun tindakanku yang berbeda dengan naskah itu. Tidak satu pun, lelakiku.
Aku dan kamu memainkan peran dengan sangat baik. Tanpa pengulangan. Satu kali take setiap adegan yang kita mainkan selalu mampu memuaskan sang sutradara. Kita memainkan lakon yang selalu menuai kontroversi. Kamu si pria bajingan yang tak mampu mencintai wanitamu dan aku lelaki yang terlanjur salah dalam mendefinisikan cinta. Dua orang yang bahagia di atas luka perempuan yang mencintaimu. Si tampan dan si pesakitan yang tak bisa bersatu kecuali di ranjang hotel setiap tiga malam dalam seminggu. Mengendap-ngendap seiring malam menyelimuti matahari untuk istirahat.
Dari awal kisah kita sudah salah, apalagi saat di tengah-tengah sang penulis membuat kita mulai menyadari bahwa kita saling butuh, tapi kemudian di akhir dia membuat kita harus berpisah karena memang bahagia bukan milik mereka yang memulai kisahnya dengan kebohongan. Bahagia itu bukan milik kita yang mengaku cinta tapi tak pernah berusaha mewujudkan selain mendapatkan kamar kosong di hotel tempat biasa kita bertemu. Bahagia bukan milik kita yang terlanjur terhanyut dalam kisah yang tabu. Bahagia dalam cinta yang kamu katakan bahkan tak berlaku untuk kita yang terlalu sama.
Lantas apa yang kamu persalahkan kini?
Bukankah memang begini jalannya? Kamu ke timur dan aku ke barat. Menjalani hidup masing-masing tanpa pernah lagi mencoba kembali meski di tubuhku masih terasa jejakmu di seluruh tubuhku.
Sungguh. Masih.
Tapi, bukankah seharusnya kita hanya dalam cerita fiksi?
Bukankah kita yang saling mencinta itu hanya dalam peran yang kita mainkan demi cerita yang menuai air mata? Bahkan menuai hujat dari orang banyak? Demi kepuasan batin kita sebagai aktor yang penuh totalitas?
Lantas kenapa kini kamu seolah mengharapkan aku benar-benar menangisimu yang memang sudah bersamanya?
Jangan..jangan pernah memainkan permainan yang tidak bisa kamu menangkan. Jangan sekali pun kamu coba untuk memenangkan hatiku karena sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa kamu menangkan. Sebab kita memang tidak pernah ada kecuali dalam fiksi.
Kecuali kamu bisa membujuk Tuhan untuk mengubah takdir bahwa hatiku mampu berlabuh selain padanya…wanitamu.
Hahaha bujuklah Tuhan kalau kamu bisa. Aku sudah coba. Bertahun-tahun. Tapi tak juga hatiku berubah pada wanitamu. Dan wanitamu masih juga setia padamu yang berharap memiliki cinta dalam fiksi.
Ironis.
***
(sumber gambar : tumblr.com)

Selasa, 19 Februari 2013

Pagi Di Hatimu



Sehangat apa pun pagi di akhir Februari, masih terlalu dingin untukku nikmati sendiri. Angin semilir yang menari dari celah ventilasi dapur apartment ini bahkan mampu membuatku merinding dan makin berharap kamu ada di sini.
Kalau berbagi selimut masih belum bisa kita lakukan, setidaknya kamu bisa duduk di kursi pantry itu, tersenyum padaku sambil menggulung tangan kemejamu yang bewarna abu-abu—warna favoritku—sampai siku. Sementara aku sibuk kesana kemari—mengecek oven dimana banana muffin yang ku beli semalam ku panaskan untukmu kemudian menyeduhkan kopi hitam kental kesukaanmu. Minuman penambah semangat, katamu. Meskipun aku ingin bilang bahwa pelukanku lebih baik dari pada secangkir kopi ini, namun tak urung aku ungkapkan karena kamu pernah bilang bahwa kopi memang kalau jauh dengan pelukanku.
Berkali-kali kamu bilang itu…di mimpiku. Hahaha. Ya, hanya di mimpi. Karena belum pernah sekali pun aku dan kamu menghabiskan pagi bersama. Duduk berdua di pantry apartment milikku yang sederhana ini sambil membicarakan mimpi kita semalam kemudian saling menceritakan rencana hari ini. Seperti hari senin biasanya yang penuh rapat direksi, kamu akan ada di kantor sampai jam enam sore nanti—tidak, kamu tidak lembur karena kamu tidak suka itu, melainkan meng-copy film pesananku yang banyaaaaaak itu untuk referensi menulis. Dan aku akan menulis di apartment sampai jam makan siang—karena memang harus selesai sebelum jam satu—lalu pergi menemui editorku—membicarakan naskah dan hal-hal lain yang kamu tidak mengerti. Kita juga sudah sepakat untuk saling memberi kabar sesekali lewat BBM.
Sebelum kamu pergi bekerja ke kantor dan aku kembali menulis, kita membuat janji untuk makan malam bersama. Lalu kamu akhiri makan malam kita dengan kecupan selamat tidur di keningku  dan terucap lagi janji untuk menghabiskan pagi bersama esok hari.
Kita berdua pun tidur dengan nyenyak dalam kenyang dan bahagia.
We are just share stuff like the other couple—who try to be in love—do.
Sayangnya, kita belum sampai sejauh itu dan aku jadi geli sendiri. Menyadari bahwa begitu kental artimu di otakku—atau mungkin juga hatiku?—sampai terbawa mimpi berkali-kali bahkan mengkhayal semanis itu di pagi hari yang sepi. Hanya aku, cangkir kopiku, dan mataku yang tak henti mencuri pandang ke smart phone milikku; berharap ada pesan darimu.
Kamu tahu kan? Jatuh cinta itu mudah, yang tidak mudah adalah mendarat di atas cinta itu sendiri.
Seperti halnya denganku kini. Mungkin memang bukan jatuh cinta karena waktu terlalu singkat untuk menciptakan rasa. Tapi kalau memang ini jatuh cinta, aku sudah ada di dasar hatimu; terjun dengan perasaan bahagia tanpa menghitung jarak jatuh dan mendarat begitu saja. Kemudian patah hati. Berkeping-keping. Karena ternyata masih ada dia sedikit di sana. Sosok yang pernah membuatmu bahagia dan bahkan sudah berbagi pagi denganmu. Memang sudah tak sepenuhnya, namun masih mampu membuat kabut yang tebal untukmu melihat adaku.
Aku iri. Pada masa yang lewat namun masih membekas di hatimu. Panas di hati membuat cangkir berisi kopi panas ini menjadi tak berasa di telapak tanganku. Betapa cinta begitu lucu. Mampu membuat indera perasa menjadi mati rasa.
Tapi, sayangku, maaf aku lupa kalau masa lalu tidak bisa dirubah seperti menu sarapan kita setiap pagi.
Maaf ragu ini membuat masa depan terlihat tabu.
Maaf kalau pikiran irasionalku membuat kamu merasa terbebani.
Maaf aku lupa kalau sesuatu yang indah akan terjadi tepat pada waktunya.
Maaf aku lupa kalau masa lalu akan selalu ada di sana dan menjadi bagian dirimu sampai kapan pun. Begitu juga masa laluku. Akan selalu menjadi pengingat mengapa aku bisa seperti sekarang ini.
Sudah hampir jam delapan pagi, ucapan selamat pagiku belum juga kamu balas. Seketika aku berandai-andai, jam berapa kamu berhasil mengistirahatkan tubuhmu semalam? Sudah sarapankah kamu?
Kemudian aku berdoa diam-diam;
Semoga kamu tidak terlambat lagi.
Semoga harimu menyenangkan.
Dan semoga semangat pagi di hatimu tidak lagi disponsori oleh masa yang lewat. Semoga ucapan selamat pagiku mampu menggantikannya dan membuat pagi di hatimu tidak sedingin milikku. Semoga.
***
(sumber foto : tumblr.com)