Minggu, 11 November 2012

Coffee Break



Pantai Sengigi terasa lebih indah daripada biasanya bagi laki-laki yang kini tidak bisa berhenti tersenyum menyaksikan betapa cantiknya perempuan yang saat ini bermain gitar di hadapannya. Perempuan itu menyanyikan lagu dari Norah Jones yang berjudul Don’t Know Why. Meski pun laki-laki ini tahu inti dari lagu ini sedih. Ia masih bisa tersenyum. Bukan karena lagunya, tapi karena senyum perempuan di hadapannya ini mengembang  tulus ketika lagu itu berakhir.
“Lagi dong, Scha,” pintanya.
Kedua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih itu sedang menikmati sore di teras bungalow yang disewa perempuan bernama Tischa. Teras itu langsung menghadap ke pantai.
Tischa membenarkan posisi rambut panjang hitam miliknya yang berantakan karena tertiup angin pantai. Sekali lagi, Tischa tersenyum, membuat jantung laki-laki dihadapannya berdegub makin kencang.
Bagi laki-laki itu, pesona Tishca seperti rintik hujan yang turun. Mulanya sedikit tapi semakin lama semakin banyak dan ia tidak mampu lagi untuk mengelak kalau ia sudah terlanjur menginginkan Tischa. Seutuhnya.
“Lagi?” Tanya Tischa, “Emang kuping kamu nggak sakit, El, denger aku nyanyi?”
Ello, nama laki-laki itu, tertawa.
“Enggak,” jawabnya sambil memotret wajah Tischa dengan kamera yang sedari tadi ada di genggamannya.
Tischa mengalihkan pandangannya ke arah pantai sambil tetap memetik asal gitar dipelukannya.
“Aku bingung mau nyanyi apa lagi, El. Kamu deh yang nyanyi.”
Ello menggelengkan kepalanya. Ia kelabakan ditantang untuk melakukan hal yang paling disukainya tapi paling tidak bisa ia lalukan dengan baik.
Kemudian mereka diam, tidak saling bicara. Keduanya hanya menyenderkan diri di kursi malas dan menatap hamparan pantai. Ada yang mengusik hati kecil Tischa, dalam diam seperti ini, tidak sedikit pun ia merasa risih jika bersama Ello. Padahal baru hitungan minggu mereka saling kenal. Yang paling mengusik di hati dan pikiran Tischa adalah laki-laki di sampingnya ini mampu membuat dia melupakan sejenak masalah yang memang ia buang jauh-jauh di tempat indah ini.
Tapi, setelah malam datang dan dia sendirian lagi di kamar sewaannya, ia kembali lagi, pada diri dan hatinya yang dulu. Diri dan hatinya yang masih mencintai sosok yang sudah menyakitinya luar dalam.
Ia merasa konyol.
Tidak mungkin jika ia harus terus bersama Ello sepanjang waktu untuk melupakan sosok itu.
Emangnya gue siapanya Ello? Haha Tischa bodoh, pikirnya dalam hati.
Tischa mencoba membuang jauh-jauh pikirannya tentang sepanjang-waktu-bersama-Ello. Tidak, dia tidak sejahat itu… walau pun ia tahu kalau Ello juga hanya menganggapnya sebatas coffee break. Teman dikala semuanya terlalu melelahkan dan butuh hiburan. Tapi kalau harus terus bersama Ello…hmm laki-laki itu butuh privasi. Mana ia tahu kalau ternyata Ello sudah punya kekasih, ya kan?
Tiga hari yang lalu ia yakin itu, tapi, ia takut. Kalau ternyata Ello mengharapkan dirinya lebih dari sekedar coffee break. Ia tidak tahu harus bagaimana, karena kalau saat ini ia harus melepaskan Ello pergi, ia tidak rela. Tapi kalau Ello memintanya untuk tinggal, ia sudah berencana untuk membuat Ello lupa dengan permintaan itu dengan pelukannya. Yang lama. Seperti kemarin.
Ia merasa miris dalam hati. Ternyata, dia memang sejahat itu.
Semua ini gara-gara kamu, Pandji! Umpatnya dalam hati. Putus asa.
Tischa masih menatap pantai itu dengan pemikiran-pemikiran yang setengah mati ingin sekali laki-laki di sebelahnya alias Ello tahu apa yang ia pikirkan.
Meskipun secara garis besar Ello tahu apa yang Tischa pikirkan saat ini. Siapa lagi kalau bukan Pandji?
Hatinya sedikit berharap, bahwa Tischa juga sedang memikirkannya. Seperti yang ia lakukan saat ini.
Ello kesal. Pada takdir yang mempertemukan mereka di waktu yang tidak tepat. Ketika Ratischa sudah bersama orang lain. Dan orang lain itu adalah musuhnya sejak kecil. Saingannya seumur hidup. Meski pun Tischa belum tahu hal itu. Jangan sampai Tischa tahu, karena tidak ada yang tahu itu kecuali dia, Pandji dan sahabatnya, Ega.
Kesal itu menjadi satu dengan perasaan bahagia karena ketika pertama kali Tischa melangkahkan kaki di studio miliknya dan menyapanya, ia tahu kalau perempuan ini yang ia tunggu selama ini. Entah bagaimana semua itu bekerja, yang dia tahu dia ingin bersama Ratischa Namira Hasyim. Tidak peduli bagaimana pun beratnya jalan untuk memenangkan hati TIscha.
Tidak peduli siapa pria yang sudah merebut hatinya.
Dia akan merebutnya kembali.
Tidak peduli kalau saat ini, ia hanya jadi selingan untuk Tischa.
The coffee break boy.
Seketika Ello merasa konyol dengan pemikirannya yang cengeng dan sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya. Mengejar perempuan ha-ha-ha. Dia biasa dikejar.
Tunggu, desisnya dalam hati.
Ia  menoleh ke arah Tischa. Seketika ia bimbang, sebenarnya apakah ia di sini karena memang ia ingin Tischa menjadi miliknya. Atau karena ego? Ego yang tidak bisa dibendungnya karena perempuan di sebelahnya ini sudah berhasil Pandji, musuhnya, taklukan?
Argh!
“El, masuk yuk, dingin!” ajak Tischa sambil mengulurkan tangan kepadanya.
Ia menoleh dan menemukan senyum manis lengkap dengan lesung pipi itu di wajah Tischa. Kemudian ia sadar satu hal, ketika jemari Tischa tepat ada di genggamannya, Ia jatuh cinta.
Ini bukan sekedar coffee break apalagi ego.
“You got me,” bisik Ello ditelinga Tischa kemudian membawa tubuh Tischa ke dalam pelukannya yang hangat dan tulus.
Damn, I shouldn’t play with fire, batin Tischa.
Kali ini giliran Tischa yang panik. Disela kontak fisik mereka, ia menyadari, Ello tidak menganggap ini sekedar coffee break.
Sekali lagi Tischa merutuk putus asa dalam hatinya, I shouldn't play with fire, but…I don’t know how to…stop.
***
PS : Project Imagination #11 dari tema “Cofee Break

Tidak ada komentar:

Posting Komentar