Minggu, 04 November 2012

Wrong Number



Udara dingin yang lahir dari hujan yang mengguyur Jakarta malam hari tepatnya pukul 20.00 WIB tidak membuat keasikan Lexa, remaja berusia tujuh belas tahun, berhenti dari kegiatannya makan es krim. Ia dengan santainya duduk di tepi jendela ruang keluarga sambil memandang hujan dari sana dan tetap memakan es krim pembelian Bang Adam, kakak lelaki kesangan dan satu-satunya. Mata hitam bulat itu sesekali melihat ke arah BlackBerry yang sengaja di letakan di dekat kakinya yang putih bersih. Ia menunggu balasan BBM dari teman dekatnya, Justin.
Nggak biasanya deh si Entin lama gini balesnya, batinnya.
Sudah hampir sepuluh menit Justin—Lexa memanggil Justin dengan sebutan Entin karena pembawaan cowok ganteng itu yang agak melambai—tidak juga membalas BBM darinya. Itu waktu terlama yang pernah Justin lakukan jika mereka sedang bergosip via BBM.
Biasanya Lexa tidak secemas ini menunggu  balasan BBM dari Justin yang kebanyakan absurd alias tidak penting. Bagian mana yang penting dari membahas kenapa Asmirandah main sinetron? Atau Rezky Aditya sewaktu kecelakaan kemarin pakai boxer bewarna sama dengan warna kesukaan Justin? Mau di lihat dari sudut mana pun sama sekali tidak ada sisi pentingnya. Tapi, kali ini penting. Sepenting menanyakan apakah makanan yang ia makan di pinggir jalan itu halal atau tidak. Sepenting menjawab telepon Ibu dengan segera kalau Ibu meneleponnya entah dalam posisi apa pun Lexa saat itu. Karena ini berkaitan dengan masa depannya.
Masa depan statusnya, apakah akan terus single atau taken.
Ia bergantung setengah mati pada kelebihan sahabat dekatnya ini yaitu punya link ke orang-orang keren di seluruh SMA Jakarta. Termasuk si lucu bernomer punggung delapan dari SMA Stardust 2 yang melawan tim basket sekolahnya.
“LALA, ENTIIIN!” seru Lexa gemas pada dua sahabat karib tadi siang di kantin sekolahnya.
Lala sampai tersedak bihun yang baru dimakannya. Si Justin dengan cantinya atah kata-kata yang pasti akan di sensor Komnas Anak.
“Apaan sih, Lex? Kaget tau,” protes Lala kalem.
“Seeeet, Alexandra Nasution! Itu congor apa ban pecah sih?! Iyyuh!” timpal Justin.
“Shhh! Berisik deh lo berdua. Gue mau ceritaaaaaaa,” kata Lexa sambil duduk di hadapan mereka.
“Yang teriak-teriak siapa yang diomelin gue,” cibir Lala.
Lexa nyengir memaerkan behel berkaret merah miliknya.
“Tadi gue abis ketemu bidadari…eh salah, malaikat maksud gue. Gila, maaaaaan! Lucu banget botak-botak seksi kayan Vin Diesel giduw,” cerita Lexa tanpa henti.
“Heh? Siapa? Jono?” tanya Lala.
“Bukan, La! Gila apa, dimakan sama Hena gue kalo naksir dia. Itu loh anak basket stratwo.”
“Aaaaa!” Justin teriak macam cheer leader. “Iya! Lucu-lucu banget ngga sih, bo’, mereka semua.”
Lexa mengangguk-angguk antusias. Tinggal Lala yang bengong karena tadi ia tidak ikut kedua orang ini ikut nonton pertandingan basket. Ia harus menyiapkan biolanya untuk tampil besok di acara puncak ulang tahun sekolah mereka.
“Lo pasti kenal kan, Tin, sama mereka?” tanya Lexa.
Justin menyendok nasi uduknya sambil mengangguk, “Kenapa emang?”
“Demi gue yang selalu menyelamatkan lo dari cup cakes buatan Gia yang enak banget supaya elo nggak gendut, please, kenalin gue sama si nomer delapan belas yang lucu itu, pleaaaseeeeee!” ungkap Lexa tanpa jeda.
Lala tertawa mendengar permintaan Lexa. Justin merengut mengingat dia memang lagi diet ketat dan harus melewatkan cup cakes buatan Gia itu sangat sangat berat untuk laki-laki seperti dia. Apalagi cup cakes itu terkenal enak banget seantero sekolah. Desainnya yang lucu, warna-warnanya yang seru dan…
Ergh, kenapa gue jadi mikirin cup cakes? Batin Justin.
“Halooo, bumi memanggil Justin!” kata Lexa menyadarkan Justin dari bayang-bayang cup cakes.
“AH, lo sih, gue jadi pengen kan makan itu cup cakes. Iya-iya, Lexa sayang yang selalu ngerepotin gue dengan skema pemikiran otak lo yang aneh tentang makan cup cakes nggak akan bikin gue gemuk. Nanti malam gue BBM ya.”
Dan begitulah. Kenapa saat ini Lexa gelisah menunggu led BlackBerry miliknya menyala merah.
Tuk!
Sebuah sendok mendarat di kepalanya membuyarkan imajinasi Lexa tentang si botak seksi. Ia mengalihkan matanya ke sosok yang terlihat sedang menahan tawa di hadapannya, Abang Adam.
“Abang! Sakit tau!” protesnya.
“Lagian kamu asik banget makan es krimnya,” Adam mengelus sayang kepala adiknya, “Dingin-dingin kok makan es krim sih?”
Lexa masih manyun, “Yee, yang beliin siapa?”
“Aku,” jawab Adam sambil menyendok es krim di tangan Lexa.
Kemudian mereka asik makan es krim sambil becanda ini itu sampai membuat Ibu mereka iri dan akhirnya bergabung. Mata Lexa sesekali melirik ke arah BlackBerry miliknya. Dalam hati ia mengutuk Justin yang entah menghilang kemana. Dan entah pada lirikan keberapa, led BlackBerry itu akhirnya menyala merah.
Ia menyerahkan kotak es krim ke tangan abangnya dan segera membuka balasan dari Justin.
Justin Ho : Lex, namanya Hanung. Dia mau langsung ketemu lo besok sebelum acara puncak di kantin. Jam 10 Di tempat td kita ngobrol
Lexa          : I LOVE YOU SO MUCH JUSTIN!!!
Lexa memekik girang membuat Adam dan Ibu kebingungan.
“Kenapa kamu? Sakit?” tanya Adam.
Lexa kembali manyun, “Ibu, abang tuh ngatain ade sakit mulu,” ia mengadu ke Ibu yang hanya terseyum.
“Lagian kamu teriak-teriak aja. Yang kalem dikit kenapa kalau jadi cewek. Tuh makan es krim aja belepotan kemana-mana.”
“Bersihin dong, Abaaaang,” Lexa memajukan wajahnya. Adam meraih tisu di dekatnya kemudian mengelap perlahan sisa es krim di sekitar bibir adiknya.
“Ih, Abang ganteng deh kalau lagi baik sama aku gini,” katanya samil mencium pipi Adam, “Aku ke kamar ya, Bu, Bang.”
Ibu dan Adam menatap Lexa yang berjalan dengan kalem menuju kamarnya dengan heran.
“Anak Ibu kenapa?” tanya Adam.
“Nggak tau, lagi jatuh cinta kali,” jawab Ibu sambil tertawa.
“IBU, ABANG! AKU DENGER!” teriakan Lexa membuat kedua orang itu tertawa makin kencang.
***
Lexa menunggu dengan gelisah di kantin sekolah. Semalaman ia sudah berlatih. Berlatih shuffle dance. Damn, bukan, err tetapi memang ketika ia masuk kamar ia langsung bershuffle ria saking bahagianya sampai hampir dua puluh menit kemudian setelah itu ia panik dan mulai berlatih di depan cermin tentang apa yang akan ia bicarakan dengan Hanung. His Vin Diesel.
“Hai, Hanung, aku Alexandra,” ucapnya. Ah, epetan banget sih ngomong nama panjang sendiri, rutuknya dalam hati.
Tepat ketika ia memutuskan apa yang akan ia katakan, sebuah tangan menyentuh bahunya. Ia menoleh, sudah menyiapkan senyumnya dan…buyar.
“Lexa?” tanya suara bariton dari lelaki bertubuh gempal berkepala….botak.
“I-ya?” balasnya terbata.
“Gue Hanung,” kataya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Mau tidak mau Lexa menyambut tangan itu.
Kemudian awkward moment.
“Lo…katanya mau kenalan sama gue?” tanya laki-laki bertubuh gempal itu.
“Eh….err…nomer punggung lo kemarin berapa?” tanya Lea hati-hati.
Hanung terlihat bingung, “De…lapan.”
“Eh? Delapan?”
JUSTIN BEGO! DELAPAN BELAS BUKAN DELAPAN DOANG!
“Err, Hanung, sorry, gue harus ke ruang musik. Bantuin temen gue, nanti kita ketemu lagi ya,” ujar Lexa kemudian berlalu meninggalkan Hanung yang terdiam.
Lexa mengambil BlackBerry dari kantungnya dan mengetik BBM ke Justin.
Lexa Alexandra : JUSTIN!!! Wrong number! Delapan belas bukan delapan!!
Justin Ho              : eh? MWAHAHAHAHA pantesan, Lex! Gue juga bingung knp lo nanyain tuh orang. Gue pikir otak lo emang konslet naksir cowok kayak Boim MWAHAHAHAHA
Lexa Alexandra : ENTIN!!!! I’LL KILL YOU!
***
PS : Project Imagination #4 dengan tema "Wrong Number"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar