Senin, 12 November 2012

Pulang


Rabu siang di terminal kedatangan luar negeri Bandara Soekarno Hatta.
Angin memaksa tatanan rambut pendek seorang wanita yang tadi ditatanya sebaik mungkin di toilet bandara menjadi tidak karuan. Mata coklat indah yang ia lindungi dengan kacamata hitam Gucci model terbaru memandang sekeliling mencari taksi. Tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada penjemputan special seperti tahun-tahun lalu.
Mommy, where are we going?” tangan mungil malikat kecilnya menarik baju bagian samping dengan tidak sabar.
Ia menoleh dan menemukan putri kecilnya sedang mengucek mata dengan jemari kanannya yang mungil. Wanita itu berlutut dan menarik lembut tangan putrinya.
“Ke rumah Eyang, Sayang. Masih ngantuk ya?”
Balita berumur empat tahun itu memanyunkan bibirnya dan mengangguk. Ia tersenyum saking gemasnya melihat wajah lucu itu cemberut. Tapi sayang, wajah menggemaskan itu mengingatkannya pada seseorang yang ingin ia lupakan.
“Yuk, cepat jalannya, biar kamu bisa tidur di taksi!” ajak wanita itu sambil bangkit.
Ia menggandeng putri kecilnya, memberhentikan taksi dan sebelum menutup pintu taksi, ia bertanya, “Ingat nggak kalau nanti sampai rumah Eyang kamu harus apa?”
Putri kecilnya mengangguk, “I have to speak bahasa,”
“Apa?”
Putri kecilnya menguap, “Aku harus bicara bahasa Indonesia dan nggak boleh manggil orang tua dengan nama,”
“Pintar!” ia mencium pipi anaknya kemudian menutup pintu taksi, “Dharmawangsa, Pak.”
***
Taksi bewarna biru itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Rumah yang tidak lain milik orang tua wanita cantik berkacamata Gucci. Ia menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menghilangkan pusing di kepala akibat jetlag dan juga pikirannya yang twist up. Setelah membayar taksi, ia kemudian turun sambil menggandeng tangan mungil putrinya. Kalau boleh memilih, ia tidak ingin pulang ke Indonesia sekarang. Ia belum siap secara mental.
Tapi, ia sudah berjanji pada orang-orang yang disayanginya lewat surat yang ia tinggalkan empat tahun lalu sebelum ia pergi, di tahun keempat kepergiannya dia akan kembali lagi dengan semua yang ia punya. Dan janji tetaplah janji baginya.
Takut-takut ia mendekat ke arah gerbang.
Satpam langsung menyambutnya.
“Cari siapa, Mbak?” Tanya satpam itu.
Ia tersenyum, rupanya Pak Malik lupa akan dirinya. Ia membuka kacamatanya dan bertanya, “Mami di rumah, Pak?”
Dan sepersekian detik setelah itu, Pak Malik hanya diam menatapnya.

***
Empat tahun lalu

Hening.
Tidak ada satu pun yang berbicara di kamar kost itu. Hanya ada seorang laki-laki yang berjalan bolak-balik di depan meja computer dan seorang perempuan yang menunduk di atas di sofa.
“Gea, kamu yakin?” Tanya laki-laki itu sambil berlutut di depan kekasihnya.
“Kurang yakin gimana lagi sih, kamu, Bim?” Gea menatapnya kecewa.
Bimo menengok ke arah benda di samping Gea. Dua buah test pack dengan dua garis merah yang sempurna di keduanya.
“Argh!” ia berteriak sambil memegangi kepalanya.
Gea hanya diam, menunggu reaksi dari laki-laki yang harus bertanggung jawab dengan kondisinya sekarang.
“Aku belum siap, Ge,” ucap laki-laki itu lirih.
Gea menutup mata dan menarik nafasnya dalam-dalam. Sudah di duganya ini akan terjadi. Mereka memang masih sangat muda saat itu. Dua puluh satu tahun. Demi Tuhan, banyak hal yang ingin mereka raih sebelum mengatakan ya pada komitmen yang lebih terikat.
Tapi akan beda cerita kalau mereka melampaui batas.
“Ge, kalau belum bernyawa kan boleh—“ PLAK!
“Aku nggak akan ngelakuin itu,” katanya tegas pada Bimo dan meninggalkannya.

***
Keesokan Harinya
Suara telepon genggam Gea yang lupa ia nonaktifkan sebelum tidur membangunkan tidurnya. Ia sempat melirik ke arah jam dinding kamarnya, pukul 9 pagi. Matanya yang sembab menandakan bahwa semalam ia habis menangis.
Masih dalam keadaan mengantuk ia menyapa si penelpon, “Halo,”
“Halo, Selamat Pagi!” sapa seorang perempuan di ujung sana.
“Pagi,” jawabnya datar sambil menguap.
“Benar ini dengan Gea Ananda?”
“Iya, benar. Ini siapa, ya?”
“Saya Anne, dari kedutaan Amerika…”
Dan kalimat selanjutnya dari perempuan di seberang sana membuat harapan Gea hadir kembali.
***

Beberapa langkah dari gerbang rumah bergaya mediterania di kawasan Dharmawangsa.

“Mom, Eyang galak nggak?” Tanya Cara, putri kecil kesayangan Gea.
Gea tersenyum, “Nggak kok, Sayang,” jawabnya berusaha menenangkan putrinya. Dalam hati sebenarnya ia takut, Papi tidak akan menerima kepulangannya. Lebih takut lagi kalau Mami tidak membela Gea dan Cara di depan Papi.
Cara mengangguk dengan senang dan berkata, “Aku mau peluk Eyang!” kemudian berlari meninggalkannya yang masih berjalan dengan langkah yang hampir goyah.

***
Tengah malam empat tahun lalu.

“Mam, Pap, maafin aku. Aku pergi,” bisik Gea setelah berhasil melarikan diri dari rumah lewat pintu belakang.
Besok siang ia akan berangkat ke Amerika melanjutkan pendidikan S2 di bidang bisnis di sana. Ia berhasil mendapatkan beasiswa yang diam-diam di ikutinya dua bulan lalu tanpa seorang pun tahu. Sebelum pergi ia sudah meninggalkan sebuah surat yang menjelaskan mengapa ia pergi lengkap dengan bukti. Tapi, ia tidak mengatakana akan pergi kemana, melakukan apa, yang ia janjikan hanya satu, dia pasti kembali empat tahun lagi.
BIP! Ponselnya bergetar.
Sms masuk dari Bimo.

Bimo   : I miss you. I’m sorry for all the things I’ve said to you. I want you back. And our baby too.

Gea mendesah panjang.
Kamu terlambat, Bim
Dan Gea tetap berjalan tanpa menoleh lagi.
***

“Mommy, ayo cepat! Katanya kangen Eyang?” teriak Cara dari depan pintu utama rumah keluarga Gea.
Ia mempercepat langkahnya dan ketika Cara sudah ada didalam gendongannya pintu bewarna coklat itu terbuka perlahan. Jantung Gea berdegub tidak karuan. Terlalu cepat dan ia benar-benar belum siap menghadapi seluruh keluarganya.
“Cari sia—“ kalimat dari bibir pria yang lebih tua darinya menggantung. Pria itu enatapnya tidak percaya kemudian mendekat, “Gea?”
“Iya, Kak, ini aku,” jawab Gea sambil mencium tangan kakaknya, Gara.
“Cara, ayo salam sama Om Gara,” perintah Gea.
Cara mengulurkan tangannya pada Gara.
Gara menyambut tangan Cara dan menggendongnya, “Halo, kenapa nggak bilang mau kesini? Kan bisa Om jemput.”
“Kata Mommy ini surprise, Om! Eh..maksudku ini kejutan.”
Gara menatap adiknya sendu. Ada rindu bercampur rasa bersalah disana. Bersalah karena tidak bisa melindungi adiknya dulu. Kemudian ia mengajak adik dan keponakannya itu masuk ke dalam. Gea terhenti di depan pintu.
“Ge?” Gara yang beberapa langkah di depan Gea menoleh.
“Tenang aja, ada aku,” ucap Gara seolah tahu apa yang dipikirkan Gea.
Akhirnya Gea melangkah memasuki ruang tamu. Disana tidak ada satu orang pun, namun ketika mereka bertiga memasuki ruang tengah, suara orang saling mengobrol terdengar cukup keras di telinganya.
“Ada acara, Kak? Kenapa ramai?” bisik Gea ke Gara.
“Lupa ya? Ini hari ulang tahun kamu, Ge. Tiap tahun juga begini kan?”
Jawaban Gara membuatnya merasa bersalah, seisi rumah masih ingat dengan hari ulang tahunnya.
Dan ketika mereka bertiga berdiri di batas antara ruang tengah dengan teras samping rumah…
“Pap, Mam,” panggil Gara.
Bukan hanya kedua orang tua Gea yang menoleh tapi juga tamu lainnya yang ada di sana. Tamu-tamu itu tidak lain adalah sanak keluarga Gea.
Gea salah tingkah menjadi pusat perhatian seperti itu. Mami Gea yang pertama kali berjalan mendekat ke arahnya.
Ibu dan anak itu langsung saling berpelukan. Suasana di sana masih hening, hanya isak tangis Gea dan Mami yang terdengar. Sisanya terdiam, karena  tidak ada satu pun yang berani bicara sampai pria di pojok ruangan sana bicara. Atau setidaknya menyambut kepulangan anak dan cucunya. Bukannya meletakan gelas koktail lalu pergi begitu saja.
“Saya capek, mau tidur,” begitu katanya sambil lalu.
Membuat hati Gea yang retak menjadi remuk berkeping-keping.

***
PS : Project Imagination #12 dengan tema "MBA"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar