Jumat, 16 November 2012

Semanis Selai Cokelat



Seperti hari biasa. Aurora bangun tergesa dari tidurnya yang singkat. Cuma tiga jam! Ia bangkit sambil memegangi leher bagian kiri yang sakit karena posisi tidurnya yang salah—bukan hanya posisi tidur tapi juga tempat ia tidur yang salah, ia tertidur di meja kerja yang ada di kamarnya. Di depan laptop. Ia terlalu asik mengedit bahan presentasi hari ini.
Sebagai seorang yang bekerja di perusahaan iklan, entah mengapa ide selalu datang di saat yang salah bagi Aurora. Tengah malam. Itulah yang membuat Aurora, si seksi—begitu julukannya di kantor karena tubuhnya yang memang membuat mata pria tidak bisa menahan untuk tidak meliriknya—kerap tidur pagi dan bangun pagi lagi.
“Bun, sepatu aku yang warna cokelat itu dimana ya?” Tanya Aurora tiga puluh menit kemudian.
Ia mandi secepat kilat dan dandan seadanya. Rambut panjangnya hanya di jepit dengan jepitan cantik pemberian Bunda.
Bunda keluar dari dapur, wanita yang sangat ia sayangi itu mendekati Aurora yang heboh di depan rak sepatu.
“Yang mana?” Tanya Bunda.
“Yang kemarin aku taruh sini, Bun. Yang biasa aku pakai,” jawabnya panik.
“Oh itu. Bunda cuci kemarin sore, belum kering.”
Jawaban Bunda membuat Aurora kaget setengah mati. Itu kan…sepatu kesayangannya. Sepatu ajaibnya. Sepatu yang selalu menemaninya dikala dia harus menghadiri acara penting termasuk hari ini. Presentasi untuk produk selai roti ternama yang ia incar berbulan-bulan. Tanpa sepatu itu…magic won’t happen, bagi Auora yang percaya takhayul.
“Duh! Bun! I need that shoes for my big day today,” rengeknya pada Bunda.
“Kamu punya banyak sepatu, kenapa bingung banget sih, Sayang? Pakai yang ini,” Bunda menujuk pada sepatu formal bewarna hitam miliknya.
“Bun, tanpa sepatu itu…keajaiban nggak akan terjadi. Aku ada presentasi penting hari ini,” kata Aurora.
Bunda tersenyum, “Yang kamu butuhkan itu sarapan, Sayang. Biar kamu nggak pusing dan berpikir lebih tenang. Keajaiban akan datang kalau kamu bisa berpikir tenang, lagi pula Bunda selalu doakan kamu. Pasti kamu berhasil hari ini. Sekarang sarapan dulu, ya.”
Aurora melirik sekilas jam tangannya, pukul 06.07. Doh! Kalau ia haru sarapan terlebih dulu, dia bisa terjebak macet dan akan telat sampai di kantor.
“Aku minum air putih aja, aku udah telat, Bun,” ujar Aurora sambil mengenakan sepatu hitamnya dan berjalan tergesa menuju pintu.
“Ra, tunggu!” Bunda mengambil sebuah kotak makan dan memasukan dua tangkup roti ke dalamnya, “Bawa ini. Keajaibannya ada di sini,” kata Bunda.
Aurora menerima kotak makan itu, mengecup ibunya, dan bergegas menuju stasiun.
Tanpa menyadari satu hal. Ia lupa, bahan presentasi miliknya tertinggal di meja kamarnya.
***
Aurora bernafas lega. Ia sampai kantor tepat waktu. Yang dimaksud tepat waktu adalah ia datang tepat sebelum rapat itu di mulai.
Seluruh timnya yang ada di dalam sana bernafas lega ketika Aurora memasuki ruangan.
“Selamat, Pagi!” sapanya sambil tersenyum manis.
Untung dia cantik dan menarik. Setidaknya hal itu membuat para petinggi dari perusahaan selai yang memegang market share terbesar di Jakarta Aley D’Ollay ikut tersenyum dan melupakan keterlambatannya.
“Baik, langsung kita mulai saja, Mbak Aurora,” pinta salah satu dari mereka.
Aurora mengangguk. Ia menghampiri laptop milik perusahaan  yang sudah di link ke proyektor, duduk di kursi dan mencari flash disk di dalam tasnya.
Lima detik. Flash disk itu tidak ada di tempat ia biasa meletakannya.
Sepuluh detik ia mulai panik.
Tiga belas detik. Ia sadar flash disk imut miliknya tertinggal di atas meja.
Lima belas detik. Aurora tambah panik.
Ia mencoba mengatur ritme nafasnya. Mencoba berpikir dan tetap mencari-cari keberadaan flash disk yang ia tahu tidak ada di tasnya.
“Ra,” senggol Ardi. Teman sekantornya. Semua orang sudah menunggu Aurora.
“Shhh, wait!” bisik Aurora.
Nihil, hasilnya nihil. Aurora makin panik, di tasnya hanya ada alat make up, BlackBerry, Ipod, mukena, dompet, buku catatan, dan kotak makan isi roti dari Bunda yang salah satunya sudah ia makan selama di jalan tadi.
Ini pasti karena aku nggak pakai sepatu itu, deh! Aaargh! Bunddaaaa! Umpatnya dalam hati.
Aurora benar-benar bingung.
Kemudian ia teringat kata-kata Bunda. “Keajaibannya ada di sini.”
Ia menengok kotak makan berisi roti dengan selai cokelat itu lagi.
Aurora, c’mon, think think think! Selai cokelat….Bunda….magic. c’mon, Ra! Think…aha!
Ia seperti mendapatkan hidayah. Ia bangkit dari duduknya. Melupakan flash disk yang tertinggal dan mengambil kotak makannya kemudian memulai presentasi.
“Sarapan, seperti kita tahu kalau sarapan itu adalah hal paling penting yang harus dilakukan. Tapi sebagian orang apalagi yang tinggal di kota besar sering di buru waktu dan melupakan hal itu. Saya berani bertaruh, pasti dari beberapa orang disini hanya satu atau dua orang yang sudah sarapan. Betul?”
Mereka mengangguk. Dan Aurora makin lancar mempresentasikan ide yang baru saja datang.
***
Seluruh tim menyalami Aurora setelah presentasi yang hanya berlangsung lima belas menit dan langsung deal! Pikiran Aurora masih melayang entah kemana. Masih tidak percaya. Ia berhasil! Hanya bermodalkan roti isi selai cokelat pemberian Bunda. Ia berhasil.
“Selamat ya, Ra! Jargon lo keren banget, Make your day full of miracle with Aley D’Ollay. Good job!” kata Dikateman satu divisinya.
Aurora hanya mengangguk dan tersenyum kemudian pergi menjauh dari kerumunan. Ternyata tanpa sepatu cokelat kesayangannya keajaiban bisa terjadi. Eh, bukan keajaiban. Ini semua berkat Bunda. Ia berhasil karena doa Bunda bukan karena keajaiban.
Ia mengambil BlackBerry di tasnya kemudian menekan nomer Bunda.
“Halo, Ra. Ada apa?” sapa Bunda.
“Bundaaaaa! Aku sayang Bunda! Sayang banget! Makasih ya, Bun udah mau cuciin sepatu aku dan doain aku.”
Di ujung sana Bunda tertawa lepas. Kemudian kedua Ibu dan anak itu tenggelam dalam percakapan yang manis. Semanis roti isi selai yang pagi tadi dimakan Aurora.
***
PS           : Project Imagination #16 dari tema “Selai Cokelat”
                Karya ini terinspirasi dari seorang sahabat yang lupa membawa bahan presentasi perkuliah sore tadi di Perancis sana--dan juga penyuka coklat, perut yang lapar karena belum makan dan…Mama yang baik hati ketiduran menemani saya menulis :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar