Selasa, 30 April 2013

Si Cantik Bermata Almond



Bertahun-tahun lalu, Iko ingat, ia hampir saja tertidur di tengah acara seminar bergengsi di ballroom Four Season. Pembicara pada sesi pertama itu membuat ia merasa seolah didongengkan kisah sebelum tidur. Ia menjadi ngantuk sengantuk-ngantuknya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam, membenarkan posisi duduknya yang agak lesu lalu merapikan ujung jas setelan Armani warna biru tua yang ia kenakan dengan santai. Semua itu dilakukan agar bisa menghilangkan rasa kantuk pada dirinya. Tapi, ternyata tidak. Rasa kantuk masih asik bergelayutan di kelopak matanya.
Mengantuk di tengah seminar bisnis seperti ini bukanlah gaya Iko. Tapi, salahnya sendiri, sudah tahu harus menghadiri seminar bergengsi untuk mewakili perusahaan tempatnya bekerja, ia malah mengiyakan ajakan Rumi—his friend with benefit—untuk menemani si social butterfly itu ke acara party salah satu teman sosialitanya semalam suntuk. Jadilah, pagi itu Iko tidak berhenti menguap. Di ujung matanya bahkan menetes sedikit air mata. Menandakan si empunya mata benar-benar butuh tidur.
Arrrgh! Damn you, sleepy eyes! Rutuk Iko dalam hatinya.
Kemudian perhatian Iko terbelah, dari pembicara di atas panggung sana dengan sosok yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Ia menoleh, ternyata sosok itu adalah salah satu fotografer acara ini. Seorang perempuan dengan kamera SLR di lehernya. Entah tipe berapa kamera di leher perempuan dengan kaki jenjang itu, Iko tidak peduli. Sebagai seorang lelaki normal, mata Iko lebih memedulikan penampilan dari ujung rambut perempuan yang wajahnya tertutup kamera itu sampai ke ujung kaki.
Perempuan itu memandang hasil jepretannya sambil tersenyum puas. Iko yang tadi mengantuk pun saat itu langsung seperti di siram air begitu dingin. Tubuhnya merasa sangat segar karena senyum itu. Seolah, di sekitar perempuan itu ada begitu banyak cahaya dan bunga-bunga yang entah datang darimana, tapi mampu Iko lihat dengan jelas. Fotografer perempuan ini benar-benar menyita perhatian Iko.
Hormon testosteron yang mengalir dalam darah Iko memimpin matanya untuk melihat lebih detail ke arah paras perempuan berjaket semi formal bewarna hitam. Wajah itu memiliki bentuk oval dengan kedua alis hitam berlengkung sempurna. Matanya berbentuk seperti kacang almond. Pupilnya memiliki warna hitam jernih yang terlihat penuh cahaya bagi Iko. Hidung perempuan ini bangir, tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil. Sungguh pas berpasangan dengan bibirnya yang tipis di atas dan tebal di bagian bawah. Dan lagi-lagi bagi Iko, bibir itu begitu memikat karena si pemiliknya memoleskan warna soft pink di sana.
Pria berwajah latin ini terpesona. Ia ingin mengenal si cantik bermata almond di sampingnya ini lebih jauh. Sebelum keduluan para peserta seminar ini yang mayoritas berjenis kelamain laki-laki—sama seperti dirinya, Iko mendekati fotografer itu ketika sesi makan siang. Si fotografer cantik itu sedang menyuap sepotong strawbeery cheese cake ketika Iko berdiri di hadapannya.
“Hai!” sapa Iko sambil melemparkan senyum cassanova andalannya.
Perempuan itu sedikit tersedak ketika melihat senyum Iko. Respon itu cukup membuat Iko yakin, bahwa senyum miliknya masih berfungsi dengan baik. Iko langsung merogoh sapu tangan miliknya dan memberikan sapu tangan itu pada si fotografer cantik.
Thank you,” bisik fotografer itu sambil menerima sapu tangan Iko, “Tapi aku lebih butuh minum daripada sapu tangan kamu.”
Iko tertawa kecil. “Biar aku ambilkan,” katanya sambil melangkah ke arah meja lain dan segera kembali dengan segelas air putih.
Iko memberikan gelas berisi air putih itu kepada si fotografer.
Thank you, once again,” kata perempuan itu sambil tersenyum.
Goddammit, her smile is has more poison than mine! Desis Iko dalam hati.
Iko mengangguk pelan. “Kamu udah sering ya motret acara kayak gini?” tanya Iko. Telunjuknya menunjuk sebuah kamera yang tergantung di leher perempuan itu.
Perempuan itu menggeleng, “Baru aja kok. Ini cuma bantuin temanku aja. Dia ketua pelaksana seminar ini.”
Mulut Iko membentuk huruf O dan kepalanya menggangguk mengerti.
“Kamu sendiri, sering ikut seminar kayak gini?” tanya perempuan itu ramah.
Iko mengangguk, “Kind of. Ya, lumayanlah ya untuk di tulis di CV.”
Keduanya lalu tertawa.
“Oh iya, kita belum kenalan,” Iko mengulurkan tangannya, “Namaku Iko. Kamu?”
Perempuan itu menyambut uluran tangan Iko, “Amira.”
What a beautiful name,” puji Iko.
Thank you.” Jawab Amira sambil menunduk. Ia mencoba  menutupi rona merah yang mampir di wajahnya. Dipuji memang sudah biasa bagi Amira, tapi, kali ini yang memuji sebelas dua belas dengan Enrique Iglesias. Pria latin memang selalu berhasil membuat Amira bersikap layaknya orang bodoh. Apalagi di wajah yang ada di hadapannya kini dihiasi bulu halus. Hal itu membuat Amira makin sulit untuk bersikap bisa saja. Dan dia sangat benci itu.
Beberapa detik matanya memandangi lantai ballroom naik menatap si ganteng ini dari ujung sepatu sampai ke ujung rambutnya. Amira tersenyum sekali lagi lalu mendekat ke arah Iko. Ia mengarahkan wajahnya ke sisi kiri wajah Iko untuk membisiki sesuatu yang sempat mengganggu matanya ketika tadi ia melakukan trip kecil—memandang dari ujung sepatu sampai ujung rambut Iko.
“Iko,” bisik Amira lembut membuat bulu di sekitar leher Iko meremang.
Iko memejamkan mata dan menunggu kalimat Amira selanjutnya.
 “Sleting celana kamu terbuka.” bisik Amira lagi. Lalu di susul dengan tawa kecil.
Iko yang daritadi sudah senang bukan main karena ia bisa menghirup aroma parfum Angel Heart yang dipakai Amira dari jarak dekat, langsung menengok ke arah bawah. Ke arah sleting celananya yang…GODDAMMIT!—memang terbuka.
Ia menoleh ke arah Amira yang masih tersenyum manis, membalas senyum itu dengan senyum sebiasa mungkin lalu segera izin untuk pergi ke toilet.
Dia merasa sangat bodoh dan malu.
No more party before meeting!” desis Iko.
***
sumber foto : tumblr.com

2 komentar:

  1. Aaaah selalu saja, Ri. Bagaimana bisa posting sebagus ini belum ada yang komentar. Eh aku pertamax nih mau komentar: BAGUUUUSSSS!! Lanjutin dong kisah Iko-Amiranya huehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, Ndaaaaaa. nanti aku kasih tau kalau udah aku post lanjutannya :D

      Hapus