Sabtu, 21 April 2012

Me, Latte, and The Thoughts of You



#Augie


Gua bukan peminum kopi addict kayak Tischa. Tapi gara-gara dia juga gua jadi suka minum cairan berkafein ini, soalnya gua suka ngabisin kopi punya Tischa kalau dia udah kebanyakan minum sambil ngerjain laporan dan ini anak kalau udah kerja suka lupa waktu. Pernah seharian minum kopi doang terus besoknya ambruk dan bikin Ibu--gue juga--panik setengah mati. Tischa...Tischa.

Dan kalau gua minum sampai habis bis bis kopi kesukaan dia, Caramel Machiato, dia bakalan ngomel tanpa putus selama beberapa menit tapi terus lupa dan balik sibuk ke kerjaannya. Dia emang tipe hard-worker makanya dia jarang banget punya cowok hahaha. Sekalinya dapet malah tipe macam Pandji. Entah kenapa, kayaknya emang cowok-cowok begitu yang suka deketin Tischa. Mungkin karena dia sabar. Atau emang kelewat baik dan hampir bodoh. Baik sama bodoh kan beda tipis.
Dan cowok itu brengsek. Mereka juga suka manfaatin cewek lemah. Makanya, gua nggak suka cowok haha.
 Awalnya, gua bilang, minuman kopi yang berwarna coklat namanya kopi susu. Soalnya gua cuma tau kalau nggak kopi item ya kopi susu hahaha. Bisa di tebak Tischa langsung jelasin dari A sampai Z semua jenis kopi tanpa gua bisa ngerti semuanya. Esspresso, Machiato, Caffè Brevè dan teman-temannya bikin gua malah bingung mau minum apaan. Ujung-ujungnya gua mesen Oreo Blended, soalnya cuma itu yang gue tau pasti rasanya haha.

Tapi, sore ini beda. Gua tau mau minum apa. Lattè. Dengan krim yang banyak. Bahkan gua udah mikirin dari tadi selama latihan climbing di pusgiwa. Nggak biasanya emang, tapi entah kenapa hari ini gua mau minum itu. Mungkin karena depok sore hari ini udaranya hangat. Atau karena hari ini dua makhluk cerewet itu, Tischa dan Mara, sibuk sama kegiatan masing-masing. Atau karena gua pengen sendirian aja. Nggak tau juga. Yang gua tau, gua pengen minum Lattè yang banyak krimnya. Creamy. Mirip dia.
Berhubung di perpustakaan kampus gua ada Starbucks, jadilah gua pergi kesana. Sendiri. Nggak sama Tischa atau temen-temen kampus apalagi sama dia... 
Terutama sama dia. Mara. Cewek yang hari ini jadi center of the day in my head dan sebelumnya gua pikir nggak akan pernah jadi orang spesial di hari-hari gua.
 Hmmm...


Gua duduk di deket jendela sambil menyesap lattè pelan-pelan dan ngeliatin orang-orang di taman. Terus keinget Mara lagi. Senyumnya, tingkahnya, pelukannya, ciumannya...
"Damn!", gua berdesis pelan. Inget detail pas beberapa minggu lalu sama dia. 
Semakin lama bayangan dia makin jelas dan bikin gua panik. Gua nggak boleh jatuh cinta sama dia. Gua harus tetep jaga hubungan ini cuma sebatas persahabatan. Apalagi dia masih sama Mario. Tapi kalau di pikir-pikir cuma orang tolol yang ngaku nggak ada rasa kalau mereka udah tau seluk beluk lekuk orang yang mereka bilang...apa? Friends with benefit? Bullshit!
Gua harusnya dengerin Tischa.
"You shouldn't play with fire, Gie.", pesan Tischa sebelum akhirnya gua putuskan untuk menyentuh Mara lebih jauh.
Gua emang cerita tentang segala hal ke Tischa. Bahkan sampe hal pribadi kayak gini. Gua butuh dia, kadang pikiran rasionalnya bisa nyadarin gua. Malah, kadang-kadang gua lupa dia cewek dan sering banget kata-kata gua yang nggak di saring mungkin menyinggung perasaan dia, apalagi gua pernah juga refleks mukul dia macam lagi bercanda sama temen cowok. Untung dia kuat dan masih mau jadi sahabat gua.
"I'll bring a lot of water, Scha. Calm.", jawab gua pede waktu itu.
Gua emang bawa air banyak. Tapi di perjalanan ternyata gua haus. Airnya gua minum dan...gua kebakaran. Gua terperangkap dan susah untuk keluar.
Ada sesuatu di Mara yang bikin gua mau ngelindungin dia. Waktu dia meluk gua, gua tau dia rapuh di dalam walau pun keliatannya kuat banget di luar. Gua tau, dia butuh tempat buat 'pulang'. Secara nggak sadar dan otomatis naluri gua sebagai cowok langsung 'on' untuk jadi perisai dia.

Tapi gimana? Gua terlanjur bilang dia itu udah kayak adik gua. Taeeee banget emang omongan gua. Topeng. Munafik.
Ah, bangke! Gua jadi kesel sama diri gua sendiri. Kesel juga deh sama Mara. Kenapa dia harus punya aura yang nggak bisa di tolak? Gua juga kesel sama Tischa, kenapa dia ngenalin gua ke Mara? Kenapa?
Nggak sadar, ternyata Lattè gua udah hampir dingin saking keasyikannya gua mikirin hal itu. Hal yang semestinya udah ada jawabannya : Cut every single touch with her. But I'm just a man who can't deny women's touch. I'm a normal man. Yes I am.
 Cuma itu satu-satunya pembelaan gua.
 Yaudahlah. Enjoy the pain, kalau kata Tischa. Biasanya gua bakalan ngomel kalau dia bilang gitu. Masalah ada buat di selesaikan bukan buat di nikmati pelan-pelan kayak minum Lattè. Tapi sore ini gua nyerah. Gua mau sebentar aja nikmatin kesakitan gua. Sendiri.
 Well, I'm not alone anyway.
 I'm sitting with me, lattè, and the thoughts of you, Mara...
To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar