Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Let it Go

(NOTE) Ini adalah cerita lanjutan yang bermulai di acara ulang tahun Oma Grace. Cerita sebelumnya bisa diintip di label OmaGrace. Silahkan bertanya via twitter ke @RiriNvr kalau bingung urutannya. Anyway, enjoy! 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Sendja yang Menyendja


Sendja mengunyah sandwich tuna buatan Tari—kakaknya—dengan perlahan lalu terhenti. Ia menyadari satu hal; sandwich tuna ini terasa lebih enak dari biasanya. Sambil mencoba menerka-nerka mengapa sandwich ini terasa lebih nikmat di lidahnya, ia mulai mengunyah lagi. Ia lalu menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat hamparan langit Bogor yang cerah dan penuh awan berbagai bentuk.
Masih terus mengunyah ia memejamkan mata, membiarkan matahari sore mendarat di wajahnya dengan damai. Secara otomatis, bibir mungil Sendja melengkungkan senyum seiring angin berhembus menyapa wajahnya. Tarian lembut angin itu membuat rasa nikmat bertambah berkali-kali lipat di lidahnya.
Hmmm...mungkin karena itu semua sandwich ini jadi enak banget, batin Sendja dalam hati.
Ia membuka matanya lalu menoleh ke arah kanan, mencari sosok wanita yang membuat sandwich lezat ini. Ia yakin ini bukan resep baru, sebab tadi pagi, ia memperhatikan kakaknya sibuk menyiapkan bekal piknik hari ini. Dipisahkan kurang lebih satu meter di atas kain yang dihamparkan di taman Kebun Raya Bogor, ia bisa melihat kakaknya terbaring menghadap ke arahnya dengan tangan kiri sebagai alas kepala. Tari sibuk membolak-balik halaman novel karya Cecilia Ahern yang sengaja dibawanya.
Dari tempatnya duduk, Sendja menggigit lagi sandwich tuna itu dan memperhatikan kakaknya dengan seksama. Kakaknya terlihat stunning dalam summer dress hasil rancangan Sendja. Rambut panjang dark brown yang sedikit ikal di bagian bawah, menari seiring angin berhembus. Membuat pemandangan samar-samar wajah cantik Tari dari tempat Sendja terlihat begitu memukau. Kini Sendja tahu kenapa Tommy dan banyak pria di luar sana memuja-muja kakaknya.
Tentu saja dengan segala kecantikan luar yang diturunkan langsung dari Ibu mereka, kemahiran Tari memasak, serta kelemahlembutan yang terpancar jelas ketika Tari berdiam diri seperti ini membuat semua pria menginginkan Tari. Tidak seperti dirinya yang boyish dan cenderung cuek. Yang bahkan tidak pernah berhasil bisa basa-basi dengan orang sekelilingnya meskipun sudah privat dengan Tari. Sedikit dalam hatinya terluka karena iri, tetapi, hari ini luka itu bisa ia sembunyikan dengan mudah. Sebab sejak pagi tadi Tari membangunkannya dengan lembut—tidak terburu-buru seperti biasa lalu memperbolehkannya bolos kuliah dan mengajaknya pergi piknik ke Bogor. Itu semua cukup membuat Sendja tahu diri. Ia tahu, ini cara kakaknya menebus rasa bersalah tiga hari lalu saat keduanya bertengkar. Meski murni bukan salah Tari, tetap saja, saat itu sisi kekanakan Sendja menyalahkan Tari.
"Hei," panggil Tari yang tersadar diperhatikan sejak tadi. "Kenapa, Dja?"
Sendja melahap sisa sandwich di tangannya lalu menggeleng.
Tari bangkit dari posisi berbaring. Ia menatap Sendja dengan seksama sambil menutup bukunya. "Ada yang salah?"
Sendja yang masih sibuk mengunyah memilih menggelengkan kepala untuk memberikan jawaban pada Tari.
"Serius?"
Sendja mengangguk.
"Make up aku nggak lebay, kan?"
Sendja sedikit tersedak lalu menggeleng.
"Hati-hati, Dja," ucap Tari sambil memberikan Sendja botol minuman. "Serius make up aku gak lebay?"
Sendja menarik nafas dalam sebelum menjawab, "Serius, Kak."
"Terus kenapa dari tadi kamu ngeliatin aku?"
Sendja diam.
"Sandwichnya nggak enak ya?" tanya Tari khawatir.
Sendja menggeleng dengan penuh semangat, "Enak bangeeeet! Sumpah! Beda deh rasanya."
"Oh ya?"
"Iya, Kak. Beda kayak biasa. Kakak tambahin sesuatu, ya?"
Tari tersenyum dan menggeleng pelan, "Nggak kok. Resepnya sama."
Hening. Mereka jarang sekali akur dan bicara baik-baik seperti ini. Biasanya selalu ada saja yang berteriak. Tapi, kali ini tidak.
"Mungkin yang bikin beda itu satu," ungkap Tari dengan senyum masih tersungging manis.
Sendja menatap kakaknya seksama, "Apa?"
"Caramu memakannya.”
"Hm?"
Tari mengangguk, "Kamu makan dengan penuh cinta."
Sendja tertawa, "Apaan, sih, Kak! Kamu kebanyakan baca novel romance, nih."
Tari mendekat ke arah Sendja lalu mencubit pelan pipi Sendja, "Aku seriuuuus," ucapnya gemas.
"Aaaaaw, okay...okay," sahut Sendja sambil menjauhkan jemari Tari dari pipinya. "Coba jelasin."
Tari menghentikan tawanya, menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya ke hamparan taman hijau di hadapan mereka, "Aku kenal kamu lebih dari apapun, Dja. Lebih dari yang kamu sadar. Sampai hal kecil yang berubah di kamu aku tahu, termasuk cara makanmu ini," ucap Tari sambil menoleh ke arah Sendja.
Sendja kikuk. Sudah lama sekali mereka tidak bicara hati ke hati seperti ini.
"Setiap hari kamu makan di meja makan dengan biasa. Tanpa semangat. Apalagi kalau musim ujian. Kamu lemeees banget. Aku berusaha dengan berbagai cara untuk buat kamu semangat dan aku pikir aku gagal. Karena kamu terus-terusan menolak aku," suara Tari terdengar bergetar. "Selama ini aku mikir, apa yang salah? Caraku memahami kamu atau cara kamu menerima caraku? Atau memang...masakanku nggak enak?"
"Masakan kakak enak!" Potong Sendja.
Tari menoleh dan tersenyum, "Thank you, Cupcake."
"Seriously, masakan kakak itu enak-enak banget!"
“Tapi, wajah sumringah kamu yang barusan itu nggak pernah aku lihat lagi sejak...tiga tahun belakangan ini."
“...”
“Sampai akhirnya aku pikir, mungkin kamu begitu karena namamu Sendja dan kamu terbawa sifat senja itu sendiri. Yang tenang dan damai dengan pemikirannya sendiri. Yang pandai menyembunyikan perasaan di balik potret dirinya yang indah. Kayak kamu, Dja. Yang nggak pernah membiarkan aku untuk mengerti kamu lebih jauh kecuali menikmati keindahanmu dari jauh," ungkap Tari. "Dress ini contohnya. Aku hanya bisa terima ini aja dengan perasaan campur aduk; ya senang ya kaget ya bingung. Tanpa bisa nanya lebih jauh; kenapa kamu buat dress ini untuk aku? Kenapa tiba-tiba? Haha, soalnya abis itu kamu langsung diam lagi. Kamu nggak pernah ngebiarin aku untuk dapat jawaban itu. Persis senja yang tiba-tiba hilang waktu aku lagi asik-asiknya menikmati semburatnya."
Tari berhenti sejenak untuk menatap adiknya penuh sayang.
"Hari ini beda. Kamu makan sandwich itu dengan perasaan yang...hmm...lepas. Bebas. Kamu membiarkan dirimu untuk membuat orang lain—aku, untuk membuat kamu bahagia. Dengan hal sesederhana sandwich tuna itu. Well, okay, aku tahu, aku kadang keras ke kamu. Aku kadang menekan kamu. Semua aku lakukan untuk lebih tahu harus gimana ke kamu, Dja. Aku tahu...kamu selalu berpikir aku sok dewasa. Aku memang nggak bisa gantiin Mama, Dja. Tapi..."
Suara Tari bergetar. Tanda bahwa ia sedang menahan tangis yang tiba-tiba ingin keluar.
"Kamu harus tahu, ini semua nggak mudah untuk aku, Dja. Aku butuh Papa juga sama kayak kamu. Aku butuh Mama juga persis kayak yang kamu rasain. Tapi aku nggak bisa egois dan membiarkan kamu bingung dengan ketidakhadiran mereka. Aku hanya berusaha untuk jadi seseorang yang bisa kamu andalkan. Hanya itu, Dja. Hanya itu."
Sepersekian detik, hanya helaan nafas dan desau angin yang terdengar.
"Kak, maaf," bisik Sendja akhirnya.
Tari menghela nafas dalam-dalam. Mencoba menghentikan sesak yang terasa di dadanya.
"Aku nggak pernah tahu kalau aku segitu egoisnya," ucap Sendja lagi.
Tari tertawa lalu mengelus sayang rambut adiknya, "It's okay, Cupcake, it's okay."
"Aku...hmm can we try again?" tanya Sendja.
"Being a better family?" Tari mengulurkan kelingkingnya.
"Yes. You and I. Always and forever," jawab Sendja sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Tari.
"Always and forever."
Senyum yang melengkung manis di keduanya menandakan bahwa Sendja tak akan lagi menyenja.

***

Jumat, 12 April 2013

Mengaku Pria



Hari libur panjang di akhir bulan Maret membuat Grand Indonesia lebih ramai dari biasanya. Anak-anak sampai para lansia tumpah tindih seliweran di pusat perbelanjaan ini. Tidak terkecuali Iko, salah seorang pria urban yang bingung mau menghabiskan waktu kemana tanpa menghabiskan begitu banyak tenaga. Berhubung lusa ia akan bertolak ke London dan kebetulan Iko sedang membutuhkan tas kerja baru, ia memutuskan untuk pergi ke GI sendirian. Ngopi lalu mencari tas kerja. Tanpa Rumy atau teman wanitanya yang lain. Khusus hari ini, ia mau sendirian saja. Lagipula pergi berbelanja bersama wanita itu selalu merepotkan dan…membuat kartu kreditnya over limit.
 
Jadilah kini Iko duduk membaca koran di pojok gerai Starbucks yang terletak tepat di samping toko buku Kinokuniya sebelum mencari tas kerja baru. Sejak sepuluh menit lalu, ia memang asik membaca koran. Namun derai tawa tiga pasang muda mudi di meja seberang membuat konsentrasinya buyar. Padahal ia memilih Strabucks yang berada di lantai bawah ini untuk menghindari masa agar bisa menghabiskan me time dengan tenang. Dan sekarang terbukti bahwa pilihannya salah.

Ia melipat koran yang belum selesai dibaca itu dengan rapi. Kemudian ia menyambar gelas kertas berukuran venti berisi hot caramel macchiato dengan susu kedelai dan ekstra caramel dan berdiri. Setelah memastikan tidak ada satu pun barang bawaannya yang tertinggal, ia berjalan keluar gerai. Kakinya melangkah ke arah Kinokuniya.

Dalam kaus fit badan bewarna abu-abu keluaran Lacoste dan celana khaki pendek serta sepasang sandal ia melangkah dengan santai. Perawakannya yang tinggi dan wajah latin miliknya membuat berpasang-pasang mata milik kaum hawa melirik padanya. Biasanya kalau dalam mood bagus, ia akan melemparkan senyumnya ke beberapa wanita. Namun kali ini Iko sedang tidak dalam mood bagus untuk meladeni kaum hawa itu, jadi, ia terus melangkah ke dalam toko buku dan berdiri di bagian rak buku berbahasa Indonesia.

Rak buku keluaran Indonesia itu berada kurang lebih lima langkah besar milik Iko dari pintu masuk. Ia mengambil acak beberapa buku kemudian membaca review di bagian belakangnya. Terus begitu berulang-ulang tanpa ketertarikan sama sekali. Ia meletakan buku terakhir tentang traveling dan menyeruput kopinya. Kemudian sebuah suara khas anak kecil di bagian lain membuat Iko menurunkan gelas kertas dari bibirnya. Kedua mata hazelnya mulai mencari ke sumber suara yang menarik perhatiannya itu.

“Mommy, aku mau yang ini. Boleh ya?” ujar anak perempuan kecil itu sambil menunjukan sebuah boneka kecil berbentuk voodoo yang didesain dengan berbagai macam karakter.

Entah mengapa, mata berbentuk almond milik anak kecil itu mengingatkan Iko akan seseorang. Tanpa Iko sadari, ia berjalan perlahan ke arah anak perempuan yang memakai dress bewarna pink dengan gambar princess Disney di tengahnya. Namun langkah Iko langsung terhenti, ketika sesosok wanita yang ia—pikir—kenal dengan baik menghampiri anak perempuan kecil itu.

“Oh, no, sweetheart. Kamu sudah punya banyak boneka itu,” kata wanita itu dengan suara lembut.

Iko masih ingat dengan jelas, suara wanita itu pernah memanggil namanya dengan intonasi yang sama lembut. Bahkan lebih lembut dari yang didengarnya.

Semula, Iko tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu. Namun ketika anak kecil lucu itu sudah ada di dalam gendongan sang Ibu, wajah cantik milik sang Ibu terlihat jelas di mata Iko. Tentu saja ia merasa familiar dengan mata almond berpupil hitam jernih milik anak perempuan lucu itu. Ternyata sang ibulah yang menurunkannya. Sang ibu itu tak lain adalah sosok yang pernah berarti bagi Iko, mantan kekasihnya dulu.

“Amira…” ucap Iko lirih ketika wanita itu mencium pipi tembam anak di dalam gendongannya.

Mungkin sudah lebih dari lima tahun sejak ia meninggalkan Amira, baru kali ini Iko bertemu lagi dengannya. Harus ia akui, meski pun kini dalam dekapan Amira ada seorang anak perempuan kecil yang memanggilnya Mommy, tubuh Amira sama sekali tidak terlihat jauh berbeda dari beberapa waktu silam. Bahkan Amira terlihat lebih menggoda dengan mini dress selutut serta rambut panjang bergelombang di bagian bawahnya itu.

Kalau tahu kamu bakalan secantik ini, aku nggak akan ninggalin kamu. Ungkap Iko pada dirinya sendiri.

Jika kini balita dalam pelukan Amira bukan darah daging Iko. Itu adalah murni kesalahannya sendiri. Karena dulu ia yang meninggalkan Amira. Ia menghancurkan kepercayaan Amira. Ia juga yang meminta Amira untuk menjauhinya.

Padahal dulu, bagi Amira, Iko adalah segalanya. Iko adalah satu-satunya orang yang ia percaya akan menjadi teman hidupnya. Namun sayang, laki-laki semacam Iko yang sukses dan tampan—punya segalanya—memang tidak pernah cukup dengan satu perempuan. Iko memilih meninggalkan Amira demi perempuan lain ketika semua terasa benar dan tak ada masalah dalam hubungan mereka.

Dicampakan begitu saja membuat Amira membatasi diri dan tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun sampai Raha datang ke dalam hidupnya. Menjungkirbalikan dunianya dan membuat ia percaya lagi untuk bahagia bersama. Dan bahkan…memberi Amira kesempatan merasa sempurna sebagai wanita; melahirkan seorang anak perempuan yang lucu, Quinn.

Sisi keegoisan Iko meletup di dadanya. Ia merasa masih memiliki Amira. Bukankah wanita itu tidak lagi menjalin cinta dengan lelaki mana pun setelah dia pergi? Bukankah tidak adanya undangan pernikahan yang sampai ke rumahnya menandakan bahwa Amira belum sepenuhnya melupakan dia? Bukankah itu artinya Amira masih menyimpan nama Iko baik-baik di dalam hatinya?

Iko mengangguk sebagai tanda bahwa ia yakin jawaban atas pertanyaan yang berkelebatan di kepalanya adalah ‘ya, Amira masih milikku’. Iko menyeruput kopi miliknya kemudian berjalan perlahan ke arah Amira. Ia ingin menyapa Amira dan juga putri kecilnya. Lalu ia akan membawa keduanya ke dalam pelukannya selamanya. Bagaimana pun caranya, ia akan pikirkan nanti.

Namun, langkah Iko terhenti. Ketika sesosok pria menghampiri Amira dan Quinn lalu memeluk mereka dari belakang. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bahwa Amira begitu bahagia dalam pelukan pria itu. Iko kemudian tertawa kecil menyadari kebodohannya untuk mendekati istri orang di depan suaminya sendiri.

Mungkin lain kali, waktu kamu nggak sama dia,  ya, Mir. Pikir Iko dalam hati.

Meski sulit mengakui bahwa ia telah kalah dan ia kini benar-benar sangat menginginkan Amira, ia tahu ia harus menahan itu kalau mau Amira kembali. Baru saja ia ingin berbalik badan kemudian sekelebat pikiran membuat Iko membatalkan niatnya untuk berjalan menjauh.

“Well, the real man will never stab from behind,” kata Iko lirih, “And I’m a real man.”

Seiring Iko menyelesaikan kalimat pada dirinya sendiri, ia pun melangkah mantap ke arah keluarga kecil itu.
***
sumber foto : tumblr.com