Sabtu, 23 Oktober 2010

When Love Conquer It All

Gue mencoba menulis sebuah kisah. gue haap kalian bisa belajar dari kisah ini :)

Stasiun Jatinegara 15 Juni 2016 08.25 WIB

"Sawung Ghalih jurusan Kutoarjo jalur dua. Sawung Ghalih jurusan Kutoarjo jalur dua"

Suara di speaker membuyarkan lamunanku. Itu kereta yang akan membawaku ke Kutoarjo beberapa menit lagi. Meninggalkan jakarta. Meninggalkan Mama, Papa, Mas Satria, Ninta dan yang paling berat meninggalkan Daryl, tunanganku. Aku memutuskan untuk pergi, beberapa minggu mungkin bulan. Menenangkan diri atau lebih cocok di bilang melarikan diri dari Daryl dari kenyataan.
Jujur aku tidak sanggup. Menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan. Kenyataan yang sudah merubah pandanganku tentang hidup dan bagaimana Tuhan memperlakukan makhluknya 180 derajat. Beberapa minggu lalu, hidupku bisa di katakan sempurna. Namaku Shanaz, umurku 23 tahun. Aku cantik--begitu kata orang-orang--karierku lancar, aku memiliki keluarga yang memperhatikanku, kedua orangtuaku sehat walafiat, dan aku sudah bertunangan dengan pria pilihanku. Salah satu lelaki terbaik yang pernah Tuhan ciptakan.
Namun penyakit itu datang. Penyakit yang tidak pernah terpikir akan menghampiri tubuhku. Beberapa minggu lalu aku pingsan dan sempat di rawat beberapa hari di rumah sakit. Vonis dokter mengatakan ada kista yang hinggap di rahimku. Dokter juga bilang rahimku berhimpitan dengan usus dua belas jari. Bagaimana bisa? Aku selalu olahraga teratur, makan makanan bergizi. Pola hidupku sehat. Mengapa bisa?
Hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Aku hanya bisa menerima. Tidak, aku tidak terima. Karena dokter bilang kecil kemungkinan untukku memiliki seorang anak, kalau pun aku hamil kemungkinan besar akan keguguran. Memiliki anak adalah impian Daryl dan aku. Aku takut Daryl kecewa jika ia tahu aku tidak bisa mengandung anaknya. Aku terlalu muda dan takut untuk bisa menerima kenyataan ini.
Keretaku datang. Aku mengangkat koper dan segera berjalan ke gerbong 6 seperti yang tercetak di tiketku. Meletakan barang-barang di tempatnya dan duduk. Aku hanya duduk sendiri di sini. Bulan april bukan bulan orang-orang pulang kampung, jadi kereta ini sepi. Aku bersyukur, saat ini keramaian bukan hal yang aku inginkan.
Aku teringat kejadian tadi pagi sebelum aku pergi. Ninta, adikku, membantuku mengepak barang. Mama memasakan bekal untukku selama di jalan. Papa dan Mas Satria hanya sempat mencium keningku dan berpesan agar cepat pulang lalu segera berangkat ke kantor.
"Nin."
"Ya kak?", Ninta menyahutiku sambil mengecek koperku.
Aku berjalan menghampirinya. "Tolong, jangan kasih tau Mas Daryl ya. Aku pasti pulang kok."
Ninta menghentikan kesibukannya dan menarik nafas panjang lalu memelukku. Erat. Aku memeluknya lebih erat. Ninta menangis. Aku menahan tangisku.
"Cepat pulang, Kak. Semua sayang sama kakak. Bagaimana pun kakak. Mas Daryl juga sayang sama kakak."
Aku hanya mengangguk. Kata-kataku tertelan tangisku. Aku memeluk Ninta lebih erat.

♫Your still the one I run to. The one that I belong to♫

Ponselku berbunyi. Lagu You're Still The One dari Shania Twain terdengar, menandakan ada panggilan masuk dari Daryl. Foto dan namanya muncul di layar ponselku. Aku bimbang. Angkat tidak angkat tidak. Aku memilih tidak mengangkatnya. Kalau aku mendengar permohonannya pasti aku luluh. Lebih baik aku mengabaikannya.
Keretaku mulai berjalan perlahan. Sudah empat kali panggilan dari Daryl yang aku abaikan. Tiba-tiba jendelaku di ketuk dari luar. Daryl. Ia berlari-lari sambil memanggil namaku. Aku kaget dan hanya bisa menatapnya. Pasti Ninta yang memberitahu Daryl tentang keberangkatanku. Daryl memberi isyarat untuk mengangkat telepon darinya. Ia berhenti berlari dan menelponku.
Aku menekan tombol hijau ketika ponselku berbunyi panggilan dari Daryl.
"Hallo?" Ku dengar nafas Daryl terengah-engah. "Shanaz...cepat pulang. Aku sayang kamu. Aku tunggu kamu."

-----

Badanku remuk hampir 8 jam lebih di kereta. Aku sudah sampai di Kutoarjo dan sekarang berbaring di kasur rumah Pakde. Melepas lelah sambil menikmati musik alam. Jangkrik.
Ponselku berbunyi. Daryl.
Sebaiknya aku menerimanya agar ia tidak khawatir. Aku tidak ingin membuatnya cemas. Esok ia akan berangkat ke Malaysia untuk urusan kantor.
"Hallo?", sapaku.
"Hei, love. Sudah sampai kan? Bagaimana perjalanannya?"
Ya Tuhan, ternyata aku merindukan suaranya. "Iya, Ryl. Aku sudah sampai dari tadi sore. Perjalanannya lancar kok." jawabku.
"Hm..baguslah. Terus, sudah makan belum?"
Aku pikir dia mau marah, ingin memaki atau apa pun karena aku tidak pamit. Karena aku menjauhinya. Tapi ia menanyakan aku sudah makan atau belum. Ya Tuhan jahatnya aku sudah menduga yang aneh-aneh.
"Sudah, Ryl. Sudah. Kamu?"
"Aku gak nafsu makan kalau gak ada kamu."
Jangan. Jangan ngomong gitu, Ryl. Aku menggigit bibir. Menahan perasaan tidak tega.
"Makan dong, sayang. Besok kamu berangkat ke Malaysia kan? Makan sama istirahat ya."
"Iya aku makan. Tapi kamu pulang ya?"
Daryyyyl! Jangan ngomong begitu.
"Ryl, aku mau sendiri dulu."
"Give me your reason why you left me this morning without words.", tuntut Daryl.
Aku terdiam.
"Shanaz Aulia, tolong jawab pertanyaanku!"
Aku tahu aku membuatnya kesal. Tapi Daryl juga membuatku kesal. "Aku mau sendiri. Itu alasanku.", jawabku geram.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau kamu mau sendiri? Kenapa tiba-tiba kamu berubah sejak kamu keluar dari rumah sakit? Aku khawatir, Shanaz. Kamu masih sakit. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku gak akan pernah maafin diri aku sendiri karena aku ngebolehin kamu pergi begitu aja."
Aku diam. Tidak bisa menjawab pertanyaan darinya. Daryl belum tahu aku sakit apa. Aku tidak ingin ia tahu. Aku tidak ingin kehilangan Daryl.
Daryl menghembuskan nafasnya pelan. "Shanaz, aku tahu. Aku tahu kamu sakit apa. Aku tahu apa resiko yang kamu hadapi. Aku bisa terima kamu apa adanya. Kita bisa cari jalan keluarnya. Tapi kenapa kamu memilih untuk gak jujur sama aku? Shanaz yang aku kenal bukan seorang pembohong."
DEG! Daryl tahu? Pasti dari Ninta! Ninta talk too much!
"K-kamu tau darimana? Dari Ninta kan? Udah Ryl aku capek. Aku gak mau bahas ini--"
Omonganku di putus Daryl. "Bukan. Aku tahu dari dokter. Dokter itu Pamanku. Kamu lupa? Please, Shanaz jangan begini. Pulang ya? Please, kita mau nikah tahun depan. Kita harus nyiapin semuanya. Aku butuh kamu."
"Daryl, stop! Jangan bicarakan tentang pernikahan! You deserve more than me, Ryl. Aku sakit! Aku gak bisa punya anak. Aku gak bisa, Ryl. Please just leave me and find the best one."
What I've done?I just broke up with my soulmate.
Aku memutuskan hubungan, mematikan ponsel dan menangis sejadinya. Tahun depan menikah? Beberapa minggu yang lalu itu adalah mimpi yang sempurna tapi sekarang hanya terlihat seperti hal yang mustahil. Daryl lebih baik tanpa aku. Berhak mendapat yang lebih dari aku. Daryl berhak mewujudkan mimpinya memiliki dua anak. Dan itu bukan denganku. Bukan. Aku tidak boleh egois. Aku harus siap kehilangan dia. Demi melihatnya bahagia. Aku menangis sampai tertidur karena kelelahan.

-----



16 Juni 2013 Sosista Caffee

Hari ini hari spesial untuk Shanaz dan Daryl. Hari jadi mereka yang keempat. Tidak terasa sudah empat tahun mereka bersama. Suka duka sudah mampu mereka lewati dengan baik sejak SMA sampai sekarang.
Tidak seperti pasangan yang lain yang foya-foya atau do one night stand. Mereka hanya merayakan hari jadi makan apple pie di Caffee Sosista, caffee kesukaan mereka berdua. Membungkus beberapa pie blueberry untuk orang rumah dan kembali ke rumah Shanaz. Duduk di Gazebo taman belakang rumah. Bermain gitar dan bernyanyi.
Daryl duduk di hadapan Shanaz lalu mulai memetik gitar dan menyanyikan lagu kesayangan mereka berdua. You're Still The One-Shania Twain. Suara Daryl merdu, ungkap Shanaz dihatinya. Shanaz ikut bernyanyi sambil memejamkan mata. Mencoba merekam keindahan ini di dalam benaknya.
"You're still the one I run to. The one that I belong to. You're still the one I want for life.", Shanaz bernyanyi untuk Daryl.
" You're still the one that I love. The only one I dream of. You're still the one I kiss good night", Daryl bernyanyi lalu berhenti dan mencium Shanaz. Perlahan dan dalam. Lalu berbisik,"Shanaz Aulia, kamu mau kan tunangan sama aku?", ia mengeluarkan sebuah kotak dari saku jaketnya. Kotak itu berisi cincin dari emas putih yang sederhana dan anggun. Dengan satu permata di tengahnya. Indah sekali.
Shanaz terkesima dan hanya menjawab dengan anggukan kecil. Daryl memakaikan cincin itu di jari Shanaz. Shanaz tepekik gembira dalam hati, "Aku tunangan! Hey, aku sudah bertunangan dengan Daryl Novhandy!"

----

16 Juni 2016 Kutoarjo

Mataku bengkak gara-gara semalam. Aku keluar kamar berjalan ke kamar mandi dan bertemu Bude di dapur.
"Pagi, Bude.",sapaku dengan suara parau.
"Pagi, Nduk. Gosok gigi cuci muka, bude buatin wedang jahe biar suaranya apik lagi."
Aku mengucapkan terima kasih dan segera ke kamar mandi. Bude pasti dengar aku marah-marah ke Daryl. Aku malu. Tapi biarin deh.
Lima menit kemudian aku sudah duduk di meja makan bersama Pakde dan Bude. Aku menyeruput sedikit demi sedikit wedang jahe dan merasa lebih baik.
"Cah ayu, anter pakde ke rumah Pak Dody di Lugu ya? Agung mau ada urusan di kota. Kamu nda' keberatan Supirin pakde kan? Kaki Pakde masih sakit.", kata Pakde.
"Iya Pakde. Aku mandi dulu ya."
Senang akhirnya aku punya tujuan selain melamun disini. Aku segera mandi dan bersiap. Siapa tahu ada yang menarik disana.

-----

24 Maret 2012. Gazebo Rumah Shanaz

"Skak mat! Kamu kalah hahaha", pekik Shanaz gembira. Akhirnya aku bisa mengalahkan Daryl bermain catur, pikir Shanaz.
"Aku sengaja tahu!", ejek Daryl sambil menjulurkan lidahnya pada Shanaz dan mengacak-acak rambutnya.
Shanaz memukul bahu Daryl pelan. "Kamu gak bisa ya bikin aku seneng dikiiiiiit aja?!"
Daryl nyengir dan menarik Shanaz ke dalam rangkulannya."Bercanda, sayaaaaang. Aku capek main catur. Gimana kalau kita ngobrol tentang mimpi kita?"
Shanaz berbaring di pangkuannya. "Boleh, kamu dulu coba."
Daryl mengelus rambut Shanaz perlahan. "Hm..Mimpi aku kamu jadi istriku."
Shanaz tersenyum dan blushing. "Aku juga mau jadi istrimu. Nanti punya anaknya tiga ya, Ayah Daryl?"
Daryl mencubit hidung Shanaz gemas. "Dua aja ya, Bunda Nanas. Kasian kalau kamu harus melahirkan banyak."
Shanaz bangun dari pangkuan Daryl. "Ih gak apa, sayang! Tiga ya? Please.", Shanaz memohon.
"Enggak. Dua titik. Aku gak mau kamu tersiksa."
"Wooo emang dasar kamunya gak mau ngalah!", kata Shanaz pura-pura kesal.
Daryl tertawa sambil memeluk kekasihnya. "Berapa pun Tuhan kasih ke kita, Naz. Walau pun itu dua belas bahkan enggak satu pun. Aku tetap sayang kamu." Shanaz memeluknya. Mereka bahagia.

----
16 Juni 2016 Desa Lugu

Aku duduk bersama Pakde serta Bapak dan Ibu Dody di teras rumah mereka. Kami beramah tamah. Pakde menceritakan siapa aku lalu mengarahkan pembicaraan ke topik utama. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara pakai bahasa jawa. Jadi, aku hanya menyeruput teh dan ikut tertawa ketika mereka tertawa.
Lima belas menit berlalu, aku bosaaaaaaaaaan. aku jadi teringat Daryl. Dia mungkin sudah di Malaysia sekarang. Menyelesaikan beberapa pekerjaan dan mungkin sudah menemukan penggantiku? Bodoh sekali omonganku semalam. Tapi memang itu yang harus aku lakukan. Walau pun berat.
"Mbaaaaaaaah!", tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari luar. Berlari dan menghampiri Bapak dan Ibu Dodi.
"Eh si Dara, cucu Mbah udah pulang. Salim dulu sama Mbah Tino sama Tante Shanaz.", ujar Bu Dodi.
Dara menyalami Pakde lalu aku. Lucu sekali. Mungkin umurnya masih tiga tahun. Tubuhnya gempal, sorot matanya bersemangat, dan kalau tersenyum ada lesung pipi. Seperti senyum Daryl. Mungkin nanti anak Daryl akan selucu ini. Anak Daryl dengan wanita yang beruntung. Bukan aku.
Aku sedih karena memikirkan penyakitku. Tapi aku tidak bisa menahan perasaan untuk bermain bersama Dara. Aku hampiri Dara dan ku tanya habis darimana. Ia gadis kecil yang pintar. Ia menjawab pulang sekolah di play group. Ia memintaku menemaninya duduk di taman belakang dekat kolam ikan. Balita memang cepat akrab denganku.
"Tante tante, namanya Nanas ya? Kok kaya buah sih?", tanya Dara penasaran.
Aku tertawa. "Nama Tante Shanaz, sayang. Bukan Nanas."
Dara mengangguk mengerti. "Tapi aku panggil Tante Nanas gapapa ya? Hehe. Aku lebih suka kalo Tante namanya Nanas. Kedengarannya tuh segerrrrrr."
Ya Tuhan, Dara seperti Daryl saat berkenalan denganku. Ia memaksa memanggilku Nanas. Daryl, aku rindu. Begini ya rasanya kehilangan? Aku dan Daryl tidak pernah bertengkar sampai putus, tapi semalam aku mengacaukannya. Hush! Aku ini ngomong apa? Itu memang yang terbaik untuk kami. Aku tidak mau melihatnya menderita jika menikah denganku.
Aku mengangguk setuju. Dara lalu sibuk memberi makan ikan-ikannya. Tiba-tiba ada seorang lelaki duduk di sampingku. Sosoknya begitu aku kenal. Aku menoleh. Daryl?
"Dara sangat lucu dan pintar seperti Om-nya ya, Tante Nanas?", tanya Daryl sambil tersenyum ke arahku. Itu benar-benar Daryl.
"Loh? Kok kamu disini? Gak ke Malaysia? Dara ponakanmu?", aku malah balik bertanya saking kagetnya.
Daryl tersenyum menggoda."Hey, dear. You ask too much. Ya, Dara ponakanku, sayang.Malaysia sudah di urus sama Managerku, Naz. Ada yang lebih penting yang harus aku urus disini.", jelasnya.
Aku mengerutkan keningku. "Disini? Apa?"
Daryl menghela nafas panjang dan menggenggam tanganku, aku ingin melepasnya tapi ini terlalu nyaman untukku lepas. "Kamu, sayang. Kamu. Tolong jangan siksa aku dengan sikap kamu yang seolah bisa menyelesaikan masalah ini sendiri."
Aku menatap matanya dan merasa seperti meleleh. "Kamu gak ngerti, Ryl...kamu gak ngerti perasaan aku.", kataku mencoba bertahan menatap matanya.
"Buat aku mengerti, please. Aku ada buat kamu. Aku se-la-lu ada buat kamu. Aku calon suami kamu.", ujar Daryl sungguh-sungguh.
"Aku sakit, Ryl. Aku gak normal.", ujarku sambil menahan tangis.
"Aku tahu dan aku peduli. Makanya aku kesini, mau ketemu kamu dan mencari jalan keluarnya. Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng."
"Jalan keluarnya, Rahimku di angkat dan aku gak bisa punya anak. Aku gak bisa punya anak..", aku menangis.
Daryl menarikku ke dalam pelukannya. "Enggak sayang, itu jalan untuk orang yang putus asa. Mbak Nisa, sepupuku, anaknya Pakde Dodi, Ibu dari Dara juga dulu pernah sakit sepertimu. Dan Pakde Dodi menemukan jamu tradisional yang bisa menyembuhkannya. Kamu bisa sembuh dan kita bisa punya anak. Tiga seperti maumu.", jelas Daryl perlahan sambil mengelus rambutku.
Aku melepas pelukan dan menatapnya. "Kamu...serius?", tanyaku masih bersimbah air mata.
Daryl menghapus air mataku dengan kedua jempolnya. "Aku gak pernah bohong sama kamu dan kamu tahu itu. That's why, you here, darling."
"Jadi, pakde membawaku kesini di suruh kamu? Kamu sengaja menjebak aku? Licik ya kamu!", kataku pura-pura marah.
Daryl mengecup keningku lalu tertawa. "Aku ini pintar, sayang. Bukan licik."
Aku mencubitnya. Memukulnya. Gemas. Kangen. Lalu Dara datang ikutan mencubit Daryl. "Om Daryl bikin Tante Shanaz nangis. Aku sebagai perempuan gak terima. Ciiiiaaaaat!", ujar Dara sambil membentuk gerakan silat.
Daryl mengangkat Dara tinggi-tinggi, menciumnya lalu mengembalikan Dara ke tanah. "Nah, Dara. Sekarang ke mama ya. Om mau ngobrol sebentar sama Tante Shanaz yang cantik ini."
"Pajaknya mana?", tanya Dara.
Pajak? Anak sekecil itu sudah tahu pajak? Dasar Daryl, menyebarkan otak ekonominya kemana-mana.
"Di kulkas. Baskin Robin khusus Om bawain untuk kamu."
"Oke, om!", Dara mengangkat jempolnya. Dia beralih padaku. "Kalau Om Daryl jahatin Tante lagi, teriak yang kenceng ya. Nanti aku tendang Om Daryl-nya. Daaah! Aku mau makan eskrim."
Kami berdua melihat Dara sampai kembali ke rumah. Aku tersenyum ke arah Daryl. "Maaf ya, Sayang.", ujarku.
"Aku maafin kamu. Kalau kamu mau jadi istri aku.", kata Daryl. Ia menarikku ke pelukannya dan mencium keningku lalu berbisik, "And happy 7th anniversarry, my future wife. "

-----

16 Juni 2066 kediaman Shanaz & Daryl Novhandy

"Oma Opa, happy 50th anniversarry!", ujar Heidy. Cucuku nomer satu dari anakku dan Daryl yang pertama. Ia menghampiri aku dan Daryl lalu mencium kami berdua. Lalu kelima cucu kami yang lain menciumi kami. Disusul Sadam, anak pertama kami dan istrinya serta Dania, anak bungsuku, dan suaminya. Menyalami, mencium dan mendoakan kami.
Aku menikah setahun setelah pertemuan kami di rumah Pakde Dodi. Jamu dari Pakde Dodi ternyata manjur. Aku sembuh. Dan memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan seperti harapan Daryl.
Kehidupan kami lancar. Anak dan cucu kami tumbuh dan hidup berkecukupan. Kami puas dengan hidup kami. Sangat puas.
Daryl menggenggam tanganku yang keriput. Ia lupa aku sudah tua. Baginya aku tetap Shanaz yang di kenalnya dulu. Ia tersenyum lalu berbisik. Ia tidak berbisik, tapi bernyanyi. You're Still The One dari Shania Twain. "Look like we've made it. Look how far we've come, my baby."


Gimana menurut kalian? hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar